Kemenristek Target Pelayanan Publik di Indonesia Pakai Teknologi AI pada Juli
Ilustrasi, calon penumpang didampingi petugas bandara mencoba bermain dengan Robot DILO yang ada di Digital Lounge Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (9/5/2019).

Pemerintah tengah mengembangkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk pelayanan publik dan mendorong perekonomian. Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) menargetkan, peta jalan (roadmap) terkait teknologi itu rampung pada Juli. 


Strategi nasional AI (National AI Strategic) itu sudah dibahas empat kali. “Kami usahakan selesai Juli,” kata Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Michael Andreas Purwoadi di Jakarta, Kamis (20/2).

Dari empat kali pembahasan itu, kementerian sudah menyusun tim dan membuat kerangka kerja. Kementerian juga melibatkan para unicorn dan startup seperti Tokopedia, Bukalapak dan Kata.ai untuk mengkaji strategi tersebut. 

Strategi itu bertujuan menjadi penduan bagi pemerintah dalam menerapkan AI di Tanah Air. “Strategi ini bisa membantu penerapan AI di Indonesia dalam pelayanan publik dan peningkatan ekonomi," kata Purwoadi.

Namun, ia khawatir strategi yang tengah dikaji itu tidak maksimal untuk menjadi panduan penerapan AI. Sebab, teknologi terus berkembang. 

Sejauh ini, pemerintah memang sudah menerapkan teknologi AI secara terbatas. Direktorat Jenderal atau Ditjen Pajak misalnya, memakai AI untuk mengatasi potensi penyalahgunaan (fraud). Lalu, BPPT mengembangkan teknologi itu untuk menangani kebakaran hutan.

Dari sisi swasta, sektor keuangan lumayan masif mengadopsi AI, terutama teknologi finansial (fintech). “AI digunakan untuk profiling kredit,” katanya. 

Penerapan AI oleh pemerintah dan swasta itu akan dikaji. Selain itu, BPPT memperhatikan beberapa kendala seperti Sumber Daya Manusia (SDM) dan risetnya. “SDM belum banyak pengalaman. Sekarang ini rata-rata AI masih gunakan modifikasi algoritma yang sudah ada. Sedikit yang bangun dasar algoritma dari nol," ujar dia.

Di satu sisi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana mengganti jabatan Aparatur Sipil Negara (ASN) eselon III dan IV dengan teknologi AI mulai tahun ini. Tugas administratif yang diemban oleh pejabat-pejabat tersebut akan dilakukan oleh AI. 

Hal itu bertujuan supaya proses birokrasi di Indonesia semakin cepat. Sebab, Jokowi mengeluhkan lambatnya proses birokrasi di Tanah Air selama ini. Hal itu terjadi karena birokrasi berbelit-belit. “Kami putuskan (ASN eselon III dan IV) diganti dengan AI,” kata dia, pada akhir tahun lalu.

 Meski demikian, Jokowi menyampaikan bahwa penggantian ASN eselon III dan IV dengan AI bergantung pada pembentukan omnibus law. Aturan tersebut rencananya bakal memangkas 70 hingga 74 Undang-undang (UU) yang ada saat ini.

Sumber : https://katadata.co.id/berita/2020/02/20/kemenristek-target-pelayanan-publik-di-ri-pakai-teknologi-ai-pada-juli







Makanan dan Minuman Para Dokter di Wuhan Dipasok Robot
Perjuangan para dokter dan tim medis di Wuhan, Tiongkok, melawan virus korona masih terus berlanjut. Ribuan pasien masih harus ditangani. Asupan nutrisi bagi para tim medis pun menjadi sorotan. (Hector Retamal / AFP)
Perjuangan para dokter dan tim medis di Wuhan, Tiongkok, melawan virus korona masih terus berlanjut. Ribuan pasien masih harus ditangani. Asupan nutrisi bagi para tim medis pun menjadi sorotan.
Sebab para dokter dan perawat itu dituntut untuk harus selalu bugar. Lalu bagaiamana para pekerja medis itu bisa mendapat kana makanan dan minuman? Ternyata ada mobil robot katering yang siap sedia melayani konsumsi para dokter.
Dilansir dari Mirror, Rabu (19/2), Katering robot itu bisa mengeluarkan tiga lusin makanan setiap 15 menit untuk pekerja medis di Wuhan.
Robot makanan tak berawak itu dikembangkan oleh Qianxi Robotic Catering. Robot itu disumbangkan ke Wuhan, tempat petugas medis berada di garis terdepan memerangi wabah COVID-19. Apalagi mereka berjuang untuk mendapatkan makanan karena kota itu sedang diisolasi.
Sebelumnya, dokter dan perawat dilaporkan juga sulit mendapatkan makanan di kantin dengan waktu panggilan terbatas atau dalam keadaan darurat medis.
Namun, di luar Rumah Sakit Palang Merah Hannan, di mana bangsal isolasi dan pusat perawatan sementara telah didirikan, stasiun katering robot merah muda menyajikan hidangan beras merah tradisional untuk dipesan secara gratis.
Robot itu mampu membuat 36 kali makan setiap 15 menit, berjalan 24 jam sehari untuk memastikan petugas kesehatan dapat makan kapan pun mereka mau.
Robot katering itu sepenuhnya otomatis dan melakukan proses produksi makanan sendiri. Tidak ada kontak manusia sehingga juga menurunkan risiko infeksi.
Terlihat semuanya dibuat oleh robot lalu disajikan kepada para dokter. Dojter yang membeli pun masih menggunakan pakaian khusus lengkap yakni jas hazmat serta masker khusus untuk melindungi diri dari penularan wabah.
Hasil gambar untuk Angkatan Laut AS Kembangkan Robot Belalang untuk Lacak Bom
Para ilmuwan telah mendapatkan guyuran dana dari Angkatan Laut Amerika Serikat (AS). Dana tersebut bakal digunakan untuk pengembangan robot serangga berbentuk belalang untuk menggantikan anjing pelacak bom di masa mendatang.
Menurut para ilmuwan, seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Rabu (19/02/2020), mereka telah memprogram robot serangga agar dapat merasakan berbagai aroma berbeda, termasuk lacak bom. Penelitian telah mereka terbitkan di BioRxiv.
Para ilmuwan menyatakan bahwa robot serangga akan digunakan untuk mendeteksi gas yang dilepaskan oleh zat seperti bahan peledak militer TNT dan RDX serta ammonium nitrat, yang sering digunakan oleh kelompok teroris untuk membuat bom.
Hebatnya, belalang yang sebenarnya dipasangkan dengan komponen robot atau elektroda di bagian otaknya ini hanya butuh 500 milidetik untuk mengetahui paparan bahan peledak. Kemampuannya bisa ditingkatkan lagi, karena belalang sejatinya memiliki antena kecil dengan 50.000 saraf penciuman.
Lalu, kenapa harus belalang? Well, peneliti mengatakan bahwa belalang dianggap kuat dan dapat membawa muatan besar. Para peneliti juga menilai, didukung dengan elektroda khusus, belalang mampu menganalisis aktivitas saraf ketika sedang berada di sekitar zat yang berbeda-beda jenis.
Kantor Penelitian Angkatan Laut AS telah mengalokasikan USD 750.000 atau Rp 10,2 miliar untuk proyek pada 2016. Meski tim belum berkomentar tentang proyek robot belalang yang bisa lacak bom, ilmuwan utama Baranidharan Raman, menyatakan optimisme ketika menerima hibah.
“Kami berharap pekerjaan ini benar-benar bisa mengembangkan dan menunjukkan bukti-konsep-konsep berbasis locust hybrid, kimia-sensing untuk mendeteksi ledakan,” kata Baranidharan Raman, yang aktif di Washington University at St. Louis. (SN/MF)

ROBOT ular sebagai inovasi untuk mendeteksi korban di lokasi bencana alam.* /Johns Hopskin University


Sebuah robot yang menyerupai ular dikembangkan oleh ilmuwan untuk memajukan kemampuan pencarian dan penyelamatan saat bencana.

Harapannya, suatu saat robot dapat membantu menjelajahi tempat atau medan yang susah diakses seperti puing-puing akibat gempa bumi.

Robot ular akan bergerak dan bisa memanjat dengan cepat dan lebih stabil dan diharapkan mirip seperi gerakan ular.

Seorang asisten profesor teknik mesin, Chen Li di Johns Hopkins University, Amerika Serikat mengatakan pengaturan robot ular untuk mengatasi hambatan agar tetap stabil di medan yang tak datar.

"Kami terinspirasi dari gerakan-gerakan ular yang begitu mahir dan stabil melewati setiap hambatan. Semoga robot kami bisa belajar cara meliuk-liuk seperti ular," katanya, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari The Guardian.

Dalam percobaan sebelumnya, peneliti mengamati pergerakan ular di permukaan yang datar dan belum dilakukan di permukaan tiga dimensi (3D) kecuali pohon.

"Ular-ular ini secara teratur melakukan perjalanan melintasi batu-batu besar dan pohon tumbang, mereka adalah ahli gerakan dan ada banyak yang bisa kita pelajari dari mereka," kata peneliti.

Studi tentang robot ular ini telah dipublikasikan dalam jurnal Royal Society Open Science.

Para ilmuwan memperhatikan bagian yang menggeliat memberikan stabilitas untuk menjaga agar ular tidak terjatuh.

Jika medan yang dilalui ular lebih tinggi dan licin, ular akan bergerak lebih lambat d serta menggeliat tubuh bagian depan dan belakang untuk menjaga keseimbangan.

Tim peneliti kemudian menciptakan robot untuk meniru gerakan ular. Peneliti mengklaim robot ularnya lebih stabil tapi belum mendekati kecocokan seperti yang dilakukan hewan ular.

Hewan ular masih jauh lebih unggul, tetapi hasil ini menjanjikan untuk bidang robot dan dapat melakukan perjalanan dengan medan yang sulit," kata Chen Li.***

Sumber : https://www.pikiran-rakyat.com/teknologi/pr-01341665/robot-ular-jadi-inovasi-peneliti-untuk-bantu-deteksi-korban-di-lokasi-bencana
Pembuat Tangan Robot Asal Purworejo Dapat Pesanan Alat Khusus untuk Istana
Pembuat alat egg filling, Agung Budi Wibowo menunjukkan komponen chip bernama arduino di kediamannya Dusun Karang Tengah, Kelurahan Kledungkarang Dalem, Kecamatan Bayuurip, Purworejo, Selasa (18/2/2020). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]

Agung Budi Wibowo, remaja lulusan SMK N 1 
Purworejo yang membuat tangan robot penuang telur atau egg filling mengaku sedang membuat alat untuk menghitung penggunaan arus listrik. Hal itu dia lakukan atas permintaan saudaranya yang bertugas di Istana Negara, Jakarta.
"Sudah seminggu lalu saya dimintakan untuk membuat alat pengecek penggunaan arus listrik. Salah seorang keluarga saya yang bertugas di sana (Istana Negara) yang meminta dibuatkan dan saat ini sedang saya siapkan," terang Agung saat ditemui di rumahnya di Dusun Karangtengah, Kelurahan Kledungkarang Dalem, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Selasa (18/2/2020).
Ia menjelaskan bahwa saudara yang bertugas di Istana Negara harus mengecek satu-satu penggunaan listrik di tiap lokasi. Hal itu cukup memakan waktu dan kurangnya efisiensi, sehingga pihaknya membutuhkan suatu alat yang dapat memberi informasi dalam satu waktu tanpa harus berkeliling.
"Karena tidak efisien dia meminta agar ada satu alat yang bisa memberi informasi penggunaan arus tanpa harus mengecek tiap lokasi, saya sedang menyiapkan alatnya, termasuk program dan database-nya," ungkap Agung.
Remaja yang saat ini menjadi guru honorer di sebuah sekolah di Purworejo menjelaskan pembuatan alat tersebut bisa memakan waktu satu pekan. Hal itu juga menjadi target penyelesaiannya.
"Kira-kira satu minggu harus sudah selesai. Saya juga sudah menemukan alogaritmanya (pemrograman) sehingga alat tersebut bisa menunjukkan angka penggunaanya (listrik)," jelas dia.
Agung mengaku meski baru menyelesaikan pendidikan jenjang sekolah menengah, ia kerap mendapat permintaan pembuatan alat robotik. Tak hanya itu, beberapa orang juga meminta bantuannya membuat sebuah aplikasi.
"Setelah lulus saya biasa membantu membuat aplikasi dan alat-alat oleh teman. Jadi setelah lulus ada banyak kegiatan yang saya lakukan, termasuk ke Jakarta untuk tampil di televisi," tambah dia.
Disinggung apakah sudah mendapat tawaran pekerjaan, Agung mengaku belum mendapat tawaran apapun.
"Belum dapat, saat ini masih mengerjakan berbagai permintaan. Kalaupun ada tawaran, mungkin saya bicarakan dengan ibu saya," katanya.
Agung menjelaskan bahwa apa yang dilakukannnya adalah sebuah bentuk hobi. Selain itu pihaknya mengaku mulai tertarik belajar program robot ketika melihat lampu APILL.
"Sebelumnya saya belum mengerti apa itu robot dan program-program penggerak lain. Karena saat itu melintas di jalan raya dan melihat lampu merah [APILL], saya penasaran kenapa lampu tersebut bisa berubah-ubah warna tanpa disentuh manusia. Artinya kan ada sensor yang menggerakkan untuk berubah. Nah dari situ saya tertarik untuk membuat robot dan belajar soal programer," katanya.
Diberitakan SuaraJogja sebelumnya, remaja lulusan SMK asal Purworejo, Agung Budi Wibowo tengah menjadi perhatian publik. Pasalnya laki-laki 18 tahun ini menciptakan sebuah tangan robot berbahan dasar akrilik yang dapat menuang olahan telur secara otomatis. Hal itu dia lakukan untuk membantu ibunya membuat telur dadar yang kesulitan karena gangguan penglihatan.
Moon Village: Langkah Pertama Umat Manusia Menuju Koloni Bulan?
(Astronomy)
Kita semua berkhayal mengunjungi tempat yang eksotis. Bagi kebanyakan dari kita, tempat mimpi itu ada di suatu tempat di Bumi. Tetapi bagi sebagian orang, tujuan akhir yang harus dilihat tidak ada di planet kita sama sekali.
NASA saat ini merencanakan serangkaian 37 peluncuran roket, baik robot maupun kru, yang akan memuncak dengan 2028 penyebaran komponen pertama untuk pangkalan bulan jangka panjang, menurut dokumen yang dibocorkan baru-baru ini yang diperoleh Ars Arsica. 
Pos terdepan di Bulan jelas merupakan prospek yang menarik bagi Geeks sains dan calon pelancong tata surya, tetapi beberapa percaya bahwa waktu NASA terlalu ambisius untuk realistis.
Namun, tidak seperti NASA, yang belum lama ini menyesuaikan pandangan mereka dari misi Mars untuk kembali ke Bulan, Badan Antariksa Eropa (ESA) telah menghabiskan hampir lima tahun dengan diam-diam merencanakan penyelesaian bulan permanen. 
Dan sementara membangunnya mungkin membutuhkan beberapa dekade, jika dilakukan dengan benar, itu dapat melayani seluruh dunia - termasuk para pelancong - untuk beberapa dekade mendatang.
Proyek tersebut, yang dijuluki Moon Village, menjadi berita utama pada 2015 , ketika Direktur Jenderal ESA yang baru diangkat , Johann-Dietrich Woerner , memberi tahu BBC tentang visinya.
 "Desa Bulan seharusnya tidak hanya berarti beberapa rumah, gereja, dan balai kota," katanya saat itu. "Desa Bulan ini harus berarti mitra dari seluruh dunia yang berkontribusi pada komunitas ini dengan misi robot dan astronot dan mendukung satelit komunikasi."
Meskipun komentar Woerner memberi konsep Bulan Desa momentum awal, sejak itu, banyak kerja sama dan perencanaan untuk pos bulan telah dipelopori oleh Moon Village Association (MVA), sebuah organisasi non-pemerintah dengan sekitar 150 anggota yang tersebar di hampir tiga selusin negara.
 Bekerja erat dengan ESA, tujuan MVA adalah untuk mendorong kolaborasi antara negara-negara dan organisasi-organisasi yang tersebar di seluruh dunia - terutama di negara-negara berkembang - untuk membantu mewujudkan visi basis bulan permanen yang membuahkan hasil.
Moon Village tidak hanya akan menjadi Stasiun Luar Angkasa Internasional lain di Bulan, kata Penasihat Kebijakan Luar Angkasa Senior dan Presiden Asosiasi Desa Bulan, Giuseppe Reibaldi , dalam sebuah presentasi. 
Sebaliknya, Moon Village bertujuan untuk menjadi pemukiman bulan permanen yang dirancang secara kolaboratif dan dapat diperluas yang dapat berfungsi sebagai: pusat penelitian inovatif untuk industri dan akademisi; tujuan dunia lain untuk pelancong komersial; dan tempat pembuktian untuk pangkalan kru masa depan di Mars dan sekitarnya.
"Tujuan organisasi ini adalah untuk melampaui ruang, untuk melampaui bintang-bintang," kata Reibaldi, "karena ini adalah langkah untuk semua umat manusia, dan tidak ada yang perlu ditinggalkan."
Saat ini, para pemangku kepentingan berencana untuk membangun Desa Bulan di dekat kutub selatan. Secara khusus, mereka ingin menargetkan suatu tempat yang dekat dengan tepi Kawah Shackleton, yang menawarkan daerah yang hampir selalu bermandikan sinar matahari - ideal karena menyediakan sumber energi yang cukup melalui teknologi panel surya yang teruji dan benar.
Selain banyaknya sinar matahari yang tersedia, sekitar 2,5 mil (4 kilometer) dalam, lantai Kawah Shackleton terus-menerus terselubung dalam bayangan. 
 Yang berarti,  itu adalah tempat yang sempurna untuk menyembunyikan sumber daya volatil yang berharga dan sensitif terhadap sinar matahari seperti es air. 
Temuan semacam itu di dekatnya dapat memberi penduduk minum Moon Village air minum, udara yang dapat bernapas, dan sumber bahan bakar roket yang potensial, selama kita memiliki sarana untuk membukanya.
Menurut rencana, Moon Village akan dibangun secara bertahap. Pertama, masing-masing pendarat akan turun ke permukaan bulan di dekat Shackleton Crater, di mana masing-masing akan menggunakan modul tiup.
 Modul-modul ini, yang diharapkan akan setinggi empat lantai, pada akhirnya akan berfungsi sebagai ruang kerja, area perumahan, laboratorium ilmiah, situs industri, dan habitat lingkungan.
Modul tiup, bagaimanapun, tidak dapat secara efektif melindungi manusia dari radiasi berbahaya, perubahan suhu, atau serangan mikrometeorit. 
Jadi, ESA dan MVA saat ini bekerja dengan industri swasta untuk merancang robot yang dapat mencetak 3D cangkang pelindung di sekitar setiap struktur menggunakan regolith yang tersedia yang tersedia yang diambil dari permukaan bulan.
Adam Savage mengubah robot anjing menjadi penarik becak pribadinya. (YouTube/ Adam Savage's Tested)
Adam Savage mengubah robot anjing menjadi penarik becak pribadinya. (YouTube/ Adam Savage's Tested)
Robot anjing yang diperuntukkan untuk kebutuhan industri justru diubah oleh orang ini menjadi alat penarik becak. Desainer dan juga fabrikator asal Amerika Serikat bernama Adam Savage berhasil mengeluarkan potensi terpendam dari robot anjing.
Sebagai referensi, robot anjing bernama Spot telah tersedia secara komersial untuk keperluan industri.
Robot Spot mempunyai bentuk menyerupai anjing dan bisa berjalan secara otomatis menggunakan empat kakinya.
Robot Spot merupakan produk unggulan dari perusahaan produsen robot, Boston Dynamics.
Mantan pembawa acara serial TV Discovery Channel "Mythbusters", Adam Savage, justru membuat robot anjing sebagai alat untuk "bersenang-senang".

Robot anjing dapat membawa seorang manusia di atas becak. (YouTube/ Adam Savage's Tested)
Robot anjing dapat membawa seorang manusia di atas becak. (YouTube/ Adam Savage's Tested)
Pada September 2019, Boston Dynamics sudah meluncurkan Spot secara komersial ke publik.
Robot ini sebenarnya lebih diperuntukkan khusus dunia industri. Perusahaan tak mengungkapkan harga resminya karena robot didesain berdasarkan kustomisasi pesanan.
Namun perusahaan membocorkan bahwa satu robot anjing Spot yang paling murah harganya setara dengan sebuah mobil keluarga.
Deretan kemampuan dari robot anjing buatan Boston Dynamics bernama Spot. (Boston Dynamics)
Deretan kemampuan dari robot anjing buatan Boston Dynamics bernama Spot. (Boston Dynamics)
Produsen minyak Aker BP kabarnya sudah memborong robot anjing untuk ditempatkan pada rig pengeboran minyak untuk tugas khusus.
Sementara Massachusetts Police di Amerika Serikat juga sedang bereksperimen dengan beberapa robot Spot yang rencananya akan menunjang misi kepolisian.

Tak terlalu serius, Adam Savage justru mengubah Spot menjadi alat untuk menyenangkan dirinya sendiri.
Dikutip dari Futurism, Savage dengan 2 teknisi lainnya menyambungkan punggung dari Spot kepada kayu yang berfungsi untuk menarik becak.
Menggunakan bantuan remote control, robot anjing ini bisa menarik becak dengan satu manusia di atasnya. Masih belum jelas tujuan dari eksperimen tersebut, tapi sepertinya Spot bisa ditugaskan di tempat wisata untuk menarik turis.

Spot bukanlah "anjing" sembarangan karena ia memiliki kelebihan khusus termasuk sensor kamera pada kepalanya, sertifikasi IP54 yang membuatnya tahan air dan debu, serta bisa berjalan dengan kecepatan 1,6 meter per detik.
Robot Spot bisa dioperasikan pada suhu ekstrem kisaran -20 hingga 45 derajat Celcius.
Melihat kemampuan robot anjing Spot yang luar biasa dan dibuat khusus untuk sektor industri, sepertinya disayangkan apabila kini Spot menjadi "anjing penarik becak".
Welcome to My Blog

Popular Post

Search This Blog

Kemenristek melibatkan Tokopedia, Bukalapak, dan Kata.ai untuk mengkaji peta jalan penerapan AI. Kementerian target, pelayanan publik pakai AI pada Juli.

Ilustrasi, calon penumpang didampingi petugas bandara mencoba bermain dengan Robot DILO yang ada di Digital Lounge Terminal 1 Bandara Soe...

- Copyright © Pusat Robotika Indonesia -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -