Sistem Robotik, Ilustrasi
Sistem Robotik, Ilustrasi

Tren penggunaan teknologi robot di Indonesia pada industri mengalami kenaikan, dengan mayoritas bidang industri makanan dan minuman. Hal itu diungkapkan salah satu pejabat perusahaan robotika di Indonesia.

"Ada kenaikan sekitar 20 persen penggunaan robot pada industri di Indonesia. Ini menjadi pertanda bahwa implementasi robot di Indonesia sudah bisa dimulai," kata Head of Robotics & Discrete Automation ABB Indonesia Mugi Harfianza di Surabaya, Selasa (17/9).

Mugi pada acara Indonesia's Leading of Industrial 4.0 (INDI 4.0) mengatakan, serapan teknologi robot di Indonesia pada tahun 2017 mencapai sekitar 950 unit, dan pada tahun 2018 melonjak menjadi 1200 unit robot.

Indonesia, memiliki potensi yang bagus untuk bidang robotika, dan industri terbesar yang menerapkan teknologi robot adalah industri makanan dan minuman. "Hal ini berbeda dengan di negara lain, dimana industri otomotif dan elektronika justru menjadi pengguna terbesar teknologi ini," katanya.

Namun demikian, total penyerapan teknologi robotika di Indonesia masih jauh dibanding negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. "Di Vietnam, tingkat penyerapan robot sudah mencapai 3.000 unit per tahun, sementara Thailand mencapai 4.000 unit robot per tahun. Apalagi jika dibanding dengan Korea, Singapura, Jerman, Amerika dan Tiongkok yang penyerapannya jauh lebih besar," katanya.

Penerapan teknologi robot di dunia industri sangat diperlukan, tujuannya untuk peningkatan produksi dan daya saing produk yang dihasilkan.

Untuk mendorong penerapan teknologi robotika tergantung dari pemerintah, apakah akan mengerem penerapan teknologi robot atau mendorongnya, sebab sangat berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan kompetisi industri.

Sementara itu, Presiden Direktur ABB Indonesia, Michel Burtin mengatakan akan tetap mendukung peta jalan pemerintah dalam "Making Indonesia 4.0" dengan menghadirkan serangkaian teknologi digital lintas industri berupa solusi smart sensor, digital power train serta robot YuMI.

"Kami akan berkomitmen untuk menjadi bagian dari transformasi digital ekonomi Indonesia. Baik itu mengenai efisiensi energi, manufaktur maju atau infrastruktur perkotaan, ABB memiliki produk, solusi, dan penawaran layanan yang luas untuk melengkapi peta jalan Indonesia di masa depan dalam revolusi industri keempat," katanya.

Indonesia saat ini menempati posisi kedua sebagai negara dengan optimisme tertinggi dalam menerapkan industri 4.0, yakni sebesar 78 persen.

Di atas Indonesia terdapat Vietnam sebesar 79 persen, sedangkan di bawah Indonesia ditempati Thailand sekitar 72 persen, Singapura 53 persen, Filipina 52 persen dan Malaysia 38 persen.

Sumber : https://republika.co.id/berita/pxzaho284/tren-penggunaan-teknologi-robot-di-industri-indonesia-naik

Robot Ini Bisa Masuki Pembuluh Darah

Tuesday, September 10, 2019
Tag : ,
Robot Ini Bisa Masuki Pembuluh Darah
Ilustrasi/Net

Para ilmuwan ciptakan sebuah robot yang bisa memasuki pembuluh darah. Seperti apa?

Dilansir dari Engadget, para ilmuwan di Massachusetts Institute of Technology (MIT) berhasil membuat robot yang mampu menjelajahi pembuluh darah.

Robot ini diharapkan dapat digunakan untuk kepentingan medis, seperti dapat digunakan untuk menghindari operasi bedah.

Saat ini, robot tersebut belum siap untuk memasuki tahap uji klinis.

Kita nantikan saja kabar dari perkembangan penelitian ini.

Tonton video peragaannya berikut:




Foto: commons.wikimedia.org
Jepang lekat dengan teknologi serbacanggih yang mengisi setiap sisi kehidupan masyarakatnya. Kini, robot pun hadir dalam kehidupan keagamaan di Jepang. Bahkan, sebuah robot difungsikan sebagai pemberi ceramah agama di kuil Buddha bernama Kuil Kodai-ji di Kyoto.

Robot humanoid tersebut berbentuk seperti manusia dengan wajah, tangan, serta bahu silikon yang bisa bergerak ke berbagai arah. Bagian matanya pun dapat berkedip layaknya manusia sungguhan. Saat diaktifkan, robot akan memberi ceramah agama melalui para pengunjung Kuil Kodai-ji melalui kemampuannya untuk merekam dan membaca naskah-naskah Buddha.

Foto: Robot humanoid yang dapat menyampaikan ceramah agama

Penampilan robot dibuat mirip Kannon, dewa pengampun yang ada dalam kepercayaan Buddhis. Disertakan pula layar yang menampilkan terjemahan teks kitab suci dalam bahasa Inggris dan Mandarin untuk para turis.

Meski tak biasa, robot penceramah ini ternyata disambut baik oleh biksu di Kuil Kodai-ji. Digunakannya robot dalam kegiatan keagamaan Buddha dianggap sebagai sesuatu yang positif tidak perlu dipersoalkan. "Robot ini tidak akan pernah mati, itu hanya akan terus memperbarui dirinya dan berkembang," ujar kepala biksu, Tensho Goto, kepada AFP. "Itulah keindahan robot. Ia bisa menyimpan pengetahuan selamanya dan tanpa batas."

"Jelas sebuah mesin tidak memiliki tidak memiliki jiwa. Tetapi keyakinan Buddis bukan tentang percaya kepada tuhan. Ini tentang mengikuti jalan Buddha, jadi tidak masalah apakah itu diwakili oleh mesin, besi, atau pohon," pungkas Goto.
Goto juga berharap robot akan menjadi daya tarik bagi anak-anak muda untuk datang ke kuil.

Butuh uang cukup besar untuk mengembangkan robot penceramah ini. Setidaknya uang hampir satu juta dolar telah digelontorkan untuk membuat robot melalui proyek yang dilakukan oleh pihak kuil dan Hiroshi Ishiguro, seorang profesor robotika dari Osaka University.

Bukan kali ini saja Jepang menciptakan robot untuk keperluan keagamaan. Sejak 2017, robot bernama Pepper telah dirancang untuk membaca teks-teks kitab suci, melantunkan doa, dan memukul genderang dalam ritual pemakaman.

Meski disambut baik oleh kalangan biksu, bagi pengunjung kehadiran robot di kuil tidak selalu juga ditanggapi baik, utamanya bagi pengunjung dari luar Jepang. Sementara masyarakat Jepang memberi tanggapan positif, sebagian pengunjung dari negeri-negeri barat justru menyandingkannya dengan monster Frankestein.

Sumber : https://kumparan.com/absal-bachtiar/robot-penyampai-ceramah-agama-di-jepang-1rpBsdu2HnF


RS Mount Elizabeth Lengkapi Layanan Kesehatan Berteknologi Canggih
Rumah sakit Mount Elizabeth

Rumah Sakit (RS) Mount Elizabeth kini genap berusia 40 tahun. Di rentang usia produktif tersebut, RS yang berpusat di Singapura itu sukses menorahkan prestasi di bidang layanan kesehatan.

CEO RS Mount Elizabeth Dr Noel Yeo mengatakan, dalam 40 tahun terakhir pihaknya menorehkan banyak prestasi perintis dan penting. Di antaranya, menjadi rumah sakit swasta pertama di Singapura yang melakukan bedah jantung terbuka (open-heart surgery) dan syaraf (neurosurgery), menjadi rumah sakit pertama di Asia yang berhasil melakukan prosedur cardiomyoplasty dan transmyocardial revascularisation menggunakan laser jantung pada 1993.

“Selain itu, Mount Elizabeth juga menjadi rumah sakit swasta pertama di Asia Tenggara yang melakukan Living Donor Liver Transplant dan robotic neck dissection,” kata Yeo, belum lama ini.

Menurutnya, pilar utama yang menjadi keunggulan RS Mount Elizabeth yaitu dokter spesialis yang terampil, teknologi canggih, dan layanan prima. Indonesia telah menjadi pasar terpenting bagi Mount Elizabeth dengan pasien lintas generasi yang telah mempercayakan layanan kesehatan mereka.

Jumlah kunjungan pasien Indonesia yang berkunjung juga terus bertambah, menunjukkan ketersediaan tim besar yang terdiri lebih dari 1,500 spesialis multidisipliner di bawah satu atap.

“Konsentrasi spesialis ini tidak tertandingi di Asia dan merupakan keunggulan utama karena kasus-kasus rumit memerlukan pendekatan tim dan tidak dapat ditangani oleh satu spesialis saja,” sebutnya.

Dia menuturkan, keahlian spesialis itu dilengkapi dengan teknologi medis canggih dalam diagnosis dan perawatan. RS Mount Elizabeth pun dikenal sebagai pelopor teknologi kesehatan tercanggih.

Yeo menambahkan, pihaknya berusaha keras untuk membuat para pasien internasional merasa nyaman seperti di rumah sendiri. Ini dilakukan dengan menawarkan layanan concierge khusus, juru bahasa yang berbicara berbagai bahasa, bahkan menu khusus untuk memenuhi selera pasien.

Untuk mengapresiasi hubungan yang erat dengan para mitra dan komunitas pasien di Indonesia, RS Mount Elizabeth baru-baru ini memperingati 40 tahun perjalanannya dengan menggelar art workshop eksklusif dan malam perayaan bertajuk ‘The State of the Art in Mount Elizabeth Journey’ di Jakarta.

Berdasarkan catatannya, prestasi yang ditorehkan itu antara lain pada 2004 menjadi rumah sakit pertama di Asia Tenggara yang melakukan Minimally Invasive Robotic Surgery untuk bedah umum, jantung, dan urologi menggunakan sistem bedah da Vinci empat-lengan. Lalu, pada 2005 RSMount Elizabeth merupakan rumah sakit pertama di Asia Tenggara yang memperkenalkan teknologi 64 iris untuk CT koroner angiogram.

Pada 2019, RS Mount Elizabeth meluncurkan Radixact, teknologi Tomotherapy generasi ke-4, sistem terintegrasi yang memberikan radiasi yang ditargetkan ke tumor sambil menyisakan jaringan sehat di sekitarnya.

“Kami akan terus menghadirkan teknologi terbaru untuk meningkatkan presisi dalam bedah, keselamatan dan kenyamanan pasien. Mount Elizabeth baru saja mencatatkan tonggak untuk 1.500 bedah robotik pada 2019. Kami juga menantikan sistem sinar proton untuk perawatan kanker tersedia di Mount Elizabeth Novena pada 2021, ” jelasnya.

Sumber : https://www.inilahkoran.com/berita/22726/rs-mount-elizabeth-lengkapi-layanan-kesehatan-berteknologi-canggih
Visualisasi Rektor ITS, Prof Moh Ashari dalam Hologram

Kemajuan teknologi telekomunikasi menuntut adanya transformasi, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Menyadari hal tersebut, operator seluler 3 (Tri) Indonesia mengajak kerja sama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) serta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melakukan uji coba jaringan 5G bertajuk Future is Now #IndonesiaTanpaBatas di Gedung Pusat Robotika ITS, Kamis (5/9/2019).

Uji coba jaringan 5G untuk kali pertama ini dihadiri langsung oleh Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng. Dalam memberikan sambutannya yang sempat ditampilkan melalui teknologi hologram, rektor yang biasa disapa Ashari ini mengungkapkan bahwa kehadiran teknologi 5G akan mengubah seluruh sektor kehidupan, terutama dalam bidang pendidikan.

Ia juga menjelaskan, ITS sebagai digital eco campus menaruh perhatian besar terhadap perkembangan jaringan komunikasi ini.Guru besar Teknik Elektro ini juga menekankan bahwa kolaborasi teknologi informasi dan industri merupakan sebuah keniscayaan. “Yang menjadi tugas bersama adalah bagaimana teknologi 5G ini mampu dimanfaatkan oleh kampus serta industri,” tegasnya.

Terkait masa depan pemanfaatan jaringan 5G oleh ITS, Ashari memaparkan bahwa jaringan 5G sangat disambut baik oleh sivitas akademika ITS. Menurutnya, banyak riset yang bisa dilakukan baik oleh mahasiswa maupun dosen ITS yang membutuhkan jaringan 5G untuk memaksimalkan teknologi yang dibuat.

“Misalnya riset robot autonomous yang diprakarsai mahasiswa ITS. Kekalahan yang sempat dialami tim robotika ITS di Korea beberapa waktu lalu disebabkan oleh ketertinggalan penggunaan jaringan kita yang masih menggunakan 4G, ungkap mantan Kepala Departemen Teknik Elektro ITS ini memberikan contoh nyata.

ITS sendiri, terang Ashari, telah melakukan riset terhadap frekuensi yang dapat digunakan oleh jaringan 5G sejak tahun 2012 lalu. “Selain itu, ITS telah banyak memiliki riset berkaitan dengan Internet of Things (IoT), kecerdaaan buatan (AI), serta cloud computing yang akan sangat terbantu dengan kehadiran 5G,” tuturnya mengingatkan.

Selain itu, lanjut pria berkaca mata ini, perkembangan jaringan telekomunikasi tersebut juga akan berpengaruh pada sistem pembelajaran kampus ke depannya. Menurutnya, keberadaan 5G akan memudahkan kuliah secara virtual. Meskipun ITS beberapa kali telah menerapkan kelas virtual dalam pembelajaran, Ashari optimistis ketersediaan jaringan 5G akan jauh memudahkan program tersebut. “Saat ini (kuliah virtual di ITS) belum pakai hologram, namun selama jaringan 5G tersedia maka fiturnya akan lebih lengkap nantinya,” paparnya optimis.

Ashari juga menjelaskan bahwa sistem kelas virtual yang didukung jaringan 5G ini akan memungkinkan ITS untuk menjangkau mahasiswa yang berada di daerah yang jauh. “Sehingga pembelajaran tidak harus dilakukan dengan bertemu muka di Surabaya,” jelasnya.

Mendukung hal tersebut, Kepala Kantor Pemasaran 3 Indonesia, Dolly Susanto mengatakan, banyak tantangan baru bagi generasi muda di dunia modern ini. Menurutnya, jaringan internet yang handal memudahkan pemuda untuk belajar dan berkarya untuk global. “Maka penting bagi kami berkolaborasi dengan institusi pendidikan guna membantu meningkatkan sumber daya manusia (SDM) unggul Indonesia,” tuturnya.

Tidak hanya itu, sebagai dukungan nyata terhadap peningkatan SDM unggul Indonesia, 3 Indonesia dan ITS juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait pemberian beasiswa sebesar Rp 100 juta dari 3 Indonesia untuk mahasiswa ITS.

Dukungan juga dilontarkan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kominfo, Dr Ir Ismail MT. Sebagai fasilitator dan akselerator dalam acara tersebut, Ismail menambahkan bahwa jaringan 5G tidak hanya menekankan pada kecepatan transfer data, tetapi juga menekankan pemanfaatan di sektor-sektor prioritas lainnya, contohnya pendidikan. “Dengan ini, dosen di kampus ternama seperti ITS dapat mengajar mahasiswa di daerah terpencil tanpa berpindah tempat dan terhalang delay jaringan,” jelasnya.

Kegiatan uji coba ini juga dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara yang dihadirkan melalui hologram. Sebagai rangkaian akhir kegiatan ini, dilakukan talk show yang juga menghadirkan narasumber lain.

Yakni selain Dirjen SDPPI Kominfo Dr Ir Ismail MT, Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng, juga dihadirkan Kepala Laboratorium Propagasi dan Radiasi Gelombang Elektromagnetik ITS Prof Dr Ir Gamantyo Hendrantoro PhD. Tidak ketinggalan, Ketua Forum 5G Indonesia (F5Gi) Dr Sigit Puspito Wigati Jarot MSc yang hadir lewat sebuah proyeksi hologram live streaming langsung dari Jakarta.

Sumber : https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/its-siap-majukan-pendidikan-dengan-teknologi-5g/
Mengerikannya Senjata Nuklir Andai Dioperasikan Kecerdasan Buatan
Ledakan bom nuklir yang diuji coba Amerika Serikat di perairan Enewetak Atoll pada 30 Mei 1956. Foto/REUTERS/Stringer

Para pakar mencetuskan ide senjata nuklir Amerika Serikat (AS) dioperasikan oleh teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang bisa berwujud robot pintar. Namun, gagasan itu dikecam mantan wakil kepala Pentagon Robert Work sebagai ide buruk yang bisa mendatangkan malapetaka bagi umat manusia.

Para pakar yang megusulkan ide itu adalah Adam Lowther dan Curtis McGiffin. Keduanya menyarankan ide itu karena mempertimbangkan senjata nuklir baru Rusia. Kemenangan perang nuklir akan diraih sebuah negara yang melakukan respons cepat, terutama aksi pembalasan.

"Kompresi waktu telah menempatkan kepemimpinan senior Amerika dalam situasi di mana sistem (komando dan kontrol) yang ada mungkin tidak bertindak cukup cepat," tulis kedua pakar itu dalam sebuah laporan, dikutip VICE, Rabu (4/9/2019).

"Dengan demikian, mungkin perlu untuk mengembangkan sistem yang didasarkan pada kecerdasan buatan, dengan keputusan respons yang telah ditentukan, yang mendeteksi, memutuskan, dan mengarahkan kekuatan strategis dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga tantangan kompresi waktu serangan tidak menempatkan Amerika Serikat pada posisi yang mustahil," lanjut kedua pakar tersebut.

Sebuah laporan tahun 2018 dari RAND Corporation menyarankan bahwa AI memungkinkan digunakan untuk mengoperasikan senjarta nuklir. Pada kenyataannya, ide itu justru membuat dunia kurang aman dari perang nuklir.

Laporan tersebut meminta beberapa ahli untuk mempertimbangkan bagaimana AI dapat mengubah pencegahan nuklir dan hasilnya tidak meyakinkan. Beberapa ahli RAND Corporation percaya bahwa AI akan membuat dunia lebih aman, dan yang lain percaya itu akan secara radikal mengacaukan keseimbangan kekuatan nuklir saat ini.

“AI hanya perlu dianggap sangat efektif untuk destabilisasi, misalnya dalam pelacakan dan penargetan peluncur musuh. Terancam dengan potensi kehilangan kemampuan serangan kedua, musuh akan dipaksa melakukan serangan pendahuluan atau memperluas persenjataannya, keduanya hasil yang tidak diinginkan," bunyi laporan RAND Corporation.

Menurut Robert Work ide penggunaan AI dalam operasional senjata nuklir Amerika sangat mengerikan. Sikapnya disampaikan dalam acara "Kampanye untuk Menghentikan Robot Pembunuh".

Koalisi organisasi non-pemerintah bekerja untuk melarang senjata otonom yang mematikan dan sekarang beroperasi di 57 negara. Work percaya bahwa senjata otonom seperti itu hanya jadi gangguan.

"Mereka mendefinisikan senjata yang tidak diawasi atau independen dari arah manusia, tanpa pengawasan dalam operasi medan perangnya, dan penargetan diri (misalnya memilih targetnya sendiri)," kata Work.

"Senjatanya tidak ada! Bahkan mungkin secara teknis tidak layak, dan jika secara teknis layak, sama sekali tidak ada bukti bahwa tentara Barat, tentu saja Amerika Serikat, akan menggunakan senjata seperti itu," ujarnya.

"Bayangkan memiliki sistem prediksi AI dalam sistem komando dan kontrol nuklir yang akan diluncurkan pada parameter tertentu," kata Work.

"Itu prospek yang jauh, jauh, jauh lebih mengkhawatirkan daripada apa pun yang dapat Anda pikirkan dalam hal senjata individu."

"Bayangkan sebuah sistem operasional di Pasifik Barat, di pusat komando China, yang mengatakan; 'semuanya tampak seperti orang Amerika akan menyerang, meluncurkan serangan pendahuluan'," papar Work.

"Sekali lagi itu adalah masalah yang jauh, jauh lebih sulit daripada apa yang coba dihentikan oleh kampanye (untuk Menghentikan Robot Pembunuh)," imbuh Work.

Yang dijelaskan Work memiliki kesamaan mengerikan dengan sistem "Tangan Mati" Rusia.

Dikembangkan selama Perang Dingin, Rusia menerima guncangan seismik dari ledakan nuklir dan - dengan asumsi tidak ada pemimpin yang tersedia untuk memberikan otorisasi—mentransmisikan perintah peluncuran ke rudal balistik antarbenua (ICBM).

Teknologi Rusia itu pernah menembakkan SS-17 ICBM yang dimodifikasi secara khusus, yang memberikan sinyal ke ICBM berhulu ledak nuklir reguler di silo mereka.

Viktor Yesin, yang memimpin Pasukan Roket Strategis Rusia pada 1990-an, baru-baru ini mengatakan kepada media lokal; "Sistem Perimeter berfungsi, bahkan telah diperbaiki."

"Tapi ketika itu berhasil, kita akan memiliki sedikit yang tersisa—kita hanya dapat meluncurkan rudal yang akan selamat setelah serangan pertama agresor," ujarnya kala itu.

Sumber : https://international.sindonews.com/read/1436609/42/mengerikannya-senjata-nuklir-andai-dioperasikan-kecerdasan-buatan-1567641348
Mukhammad Raihan Al Hakim dan Muhammad Daffa Akbar Alamsyah, murid Madrasah Aliyah Negeri 1 Pasuruan, yang menjadi juara dalam lomba robot di Jepang. (man1pasuruan.sch.id)
Mukhammad Raihan Al Hakim dan Muhammad Daffa Akbar Alamsyah, murid Madrasah Aliyah Negeri 1 Pasuruan, yang menjadi juara dalam lomba robot di Jepang. (man1pasuruan.sch.id)

Siswa MTs Negeri 8 Kalijambe, Sragen, M Miftahul Risqi meraih penghargaan performance award pada kompetisi robotik tingkat internasional di Thailand.

“Alhamdulillah, siswa kami berhasil meraih penghargaan pada kompetisi robotik tingkat internasional,” kata Kepala MTsN 8 Sragen, Muawanatul Badriyah, Selasa 3 September 2019

Kompetisi bertitel World Robot Games (WRG) itu merupakan ajang lomba robotika internasional yang diadakan setiap tahun.

Kegiatan yang diselenggarakan di Bangkok ini diikuti oleh 1220 peserta dari 10 negara antara lain Thailand, Singapura, Philipina, Vietnam, China, Malaysia, Taiwan, Bhutan, Myanmar dan Indonesia.

WRG yang digelar 29 Agustus 2019-3 September 2019 itu terbuka untuk umum, baik untuk bidang penelitian robotika, pendidikan dan teknologi.

Sedangkan tema yang diusung adalah “Robotic at Home” yang mempromosikan dan mendorong penggunaan teknologi robot dalam rumah.

Dalam lomba tersebut ada beberapa cabang lomba atau kategori lomba yang dipertandingkan di antaranya Sumo Robot, Line Tracing, Search Robot and Rescue MINI, Robot Rugby and Innovative, dan Line Tracing X-Treme.

Pada kompetisi robotik tersebut, Miftahul Risqi meraih penghargaan Performance Award untuk kategori Line Tracing Robort Extreme.

Satu hal yang membanggakan karena dikategori Line Tracing Robot Extreme, Miftahul Risqi harus berkompetisi dengan peserta dewasa.

“Ini menunjukkan bahwa siswa madrasah di desa mampu berprestasi pada ajang yang membutuhkan kemampuan teknologi masa depan,” ujar Muawanatul.

Muawanatul Badriyah menjelaskan line tracing robot extreme adalah lomba line tracing robot yang memiliki jalur lintasan extreme alias sulit dilalui.

Misalnya, tantangan melalui lintasan berbentuk roller coaster. Jika peserta tidak pandai memprogram robotnya maka resiko robotnya akan rusak karena jatuh dari ketinggian dengan kecepatan yang tinggi.

Tetapi semua itu dapat dilalui oleh Miftahul Risqi dengan baik sehingga dia menjadi pemenang dalam kompetisi robotik tersebut. Kelihaian itu pula yang mengantarnya menyisihkan peserta yang kebanyakan usianya lebih tua dari dia.

Sumber : https://tekno.tempo.co/read/1243733/siswa-mtsn-sragen-juara-kompetisi-robotik-di-thailand/full&view=ok
Welcome to My Blog

Popular Post

Search This Blog

Tren Penggunaan Teknologi Robot di Industri Indonesia Naik

Sistem Robotik, Ilustrasi Tren penggunaan teknologi robot di Indonesia pada industri mengalami kenaikan, dengan mayoritas bidang indust...

- Copyright © Pusat Robotika Indonesia -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -