Tuesday, May 21, 2019


Peneliti dari Purdue University mencoba merakit robot terbang kecil yang dapat berperilaku layaknya burung kolibri.
Baik sebagai alat dokumentasi, maupun sekedar hobi semata, penggunaan drone saat ini telah menyebar luas pada berbagai kalangan.

Namun, drone masih memiliki kendala untuk mengakses celah-celah sempit karena ukurannya yang relatif besar dan gaya aerodinamiknya yang terbatas.

Untuk mengatasi hal itu, peneliti dari Purdue University mencoba merakit robot terbang kecil yang dapat berperilaku layaknya burung kolibri.

Robot kolibri ini juga dilengkapi kecanggihan untuk dapat mempelajari algoritma berdasarkan berbagai teknik yang digunakan burung kolibri secara alami.

Artinya, setelah belajar melalui simulasi, robot dapat mengetahui bagaimana caranya bergerak seperti gerak burung kolibri, seperti kapan melakukan manuver khusus.

Penggunaan organisme model, misalnya burung kolibri, sebagai contoh untuk pengembangan engineering dikenal dengan istilah biomimikri.

Burung kolibri menjadi model pengembangan robot ini karena dapat terbang layaknya burung lain dan memiliki keunggulan dapat melayang di udara secara stasioner seperti lebah.

Jika drone memiliki kombinasi ini, maka ia akan sanggup bermanuver melintasi celah sempit pada bangunan atau struktur lain.

Keberadaan AI (kecerdasan buatan) yang dipadankan dengan sayap yang mampu mengepak secara fleksibel memungkinkan robot untuk mengembangkan berbagai teknik baru.

Meski robot tidak dapat melihat, namun ia dapat merasakan melalui sensor sentuhan.

Setiap sentuhan mengubah arus listrik, yang kemudian dapat dikenali robot.

"Robot ini pada dasarnya sanggup menciptakan peta tanpa melihat sekitarnya. Hal ini dapat berguna untuk mengenali objek dalam kondisi gelap, serta mengurangi sensor yang dibutuhkan robot untuk dapat melihat," ujar Xinyan Deng, profesor teknik mesin dari Purdue University, dilansir dari Tech Xplore, Kamis (9/5/2019).

Drone tradisional tidak dapat diperkecil ukurannya, karena mengganggu keseimbangan aerodinamis yang dibutuhkan untuk dapat mengangkat bobotnya sendiri.

Namun, burung kolibri tidak menggunakan aerodinamika konvensional seperti drone, karena sayap mereka yang lenting dan elastis.

"Terapan fisikanya berbeda, aerodinamikanya tidak kaku, dengan sudut kepakan yang tinggi dan daya apung yang besar. Ini memungkinkan keberadaan hewan terbang berukuran kecil, maka kita juga dapat memperkecil ukuran sayap robot ini," jelas Deng.

sumber: http://jogja.tribunnews.com/2019/05/20/robot-kolibri-ini-diciptakan-untuk-misi-penyelamatan?page=all

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Search This Blog

- Copyright © Pusat Robotika Indonesia -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -