Tuesday, October 15, 2019

Foto: Ground Breaking Ceremony Kampus Politeknik Manufaktur Astra (CNBC Indonesia/Samuel Pablo)
Jakarta, CNBC Indonesia - Mengikuti kemajuan teknologi, tenaga robotik menjadi pilihan pengusaha untuk mengejar efisiensi. Pemakaiannya sudah dilakukan secara terbatas di Industri dalam negeri.

Robotik merupakan kunci memasuki era Revolusi Industri 4.0. Bahkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan penggunaan robotik sudah dimulai sejak industri 3.0 yang dalam industri 4.0 beralih pada autonomous.

"Robot itu di 3.0, kalau 4.0 itu autonomous, dia machine to machine komunikasi. Tetapi kalau robot itu industri 3.0 sudah dimulai," kata Airlangga di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (14/10/2019).

Meski demikian, robotik tetap menjadi salah satu pokok bahasan dalam menghadapi industri 4.0 dan ekonomi digital. Beberapa pokok lain yang berkaitan di antaranya Internet of Things, AI, Big Data, Augmented Reality, New Material, dan Cloud Computing.

Kemenperin sendiri telah mengeluarkan peta jalan making Indonesia 4.0 di mana 5 sektor industri yaitu TPT, makanan dan minuman, otomotif, elektronik, dan kimia, dijadikan sebagai prioritas pengembangan. Indonesia secara bertahapa akan menuju pada era tersebut. Airlangga optimisme bahwa pertumbuhan PDB riil meningkat 1-2% pada 2030 dari saat ini sebesar 5% melalui otomatisasi di industri.

Meski mengandalkan autonomous, Airlangga mengatakan industri 4.0 tetap membutuhkan tenaga kerja manusia. Ia mengklaim making Indonesia 4.0 menjanjikan pembukaan lapangan pekerjaan sebanyak 17 juta orang, baik di sektor manufaktur maupun non-manufaktur pada 2030 sebagai akibat dari permintaan ekspor yang lebih besar.

"Kita bedakan capital intensive dan labor intensive. Terhadap labor intensive di sektor clothing, footwear walau sudah menggunakan industri 4.0 tetap membutuhkan tenaga kerja manusia," kata Airlangga.

Rektor ITS M Ashari mengatakan robot masa depan atau autonomous bakal menimbulkan disrupsi atau gangguan pada sektor tenaga kerja. Hal demikian lumrah terjadi. Dalam pengalaman sejarah, revolusi industri, memang akan menyebabkan beberapa jenis pekerjaan hilang, namun akan ada perkerjaan baru yang bertambah.

"Contoh mesin ketik dan komputer. Dengan munculnya komputer, maka pabrik mesin ketik tutup, tukang mesin ketik tutup tapi yang diciptakan pekerjaan baru lebih banyak...ini semua adakah akibat revolusi industri," katanya.

Menurutnya, kebutuhan tenaga kerja akan lebih banyak mengandalkan keahlian dengan kompetensi spesifik dibuktikan lewat sertifikasi keahlian di masa mendatang.

"Perguruan Tinggi sudah menyiapkan lembaga sertifikat profesi (LSP), kalau Anda misal di bidang pembangkit listrik, itu ada bermacam keahlian, itu yang perlu dikejar. Ini tidak bisa digantikan autonomous tadi. Anda perlu melakukan pemetaan mau masuk di mana," kata Ashari.

Untuk diketahui, serikat pekerja seperti KSPI mewanti-wanti bahwa 3-5 tahun ke depan, penggunaan robot akan memangkas tenaga kerja sampai 30%. Ini akan menjadi isu yang diangkat kalangan buruh ke depannya di samping soal kesejahteraan dan upah ketenagakerjaan.



sumber: https://www.cnbcindonesia.com/news/20191015071849-4-106986/diam-diam-ri-sudah-mulai-transisi-ke-era-robotik

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Search This Blog

- Copyright © Pusat Robotika Indonesia -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -