Wednesday, January 22, 2020

SMART CITY – Beberapa titik spot smart city di Bulungan masih berlanjut tahun ini. Salah satunya di areal Tugu Cinta Damai Tanjung Selor. (Foto : Nurjannah/Koran Kaltara)


Program smart city, lewat penyediaan WiFi gratis di beberapa ruang public oleh Pemkab Bulungan masih terus berlanjut. Bahkan tahun ini, unuk program yang telah diimplementasikan sejak 2015 lalu itu, akan ada penambahan spot baru.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Bulungan Zulkifli Salim mengatakan, untuk penyediaan layanan WiFi gratis di beberapa lokasi di Tanjung Selor, saat ini masih dalam proses perpanjangan kontrak dengan penyedia jaringan, dalam hal ini PT Telkom.

Ia tak memungkiri meski smar city pernah menjadi program primadona, bahkan mendapat penghargaan. Dengan melihat kondisi saat ini, program tersebut perlu dievaluasi.

“Tahun ini masih lanjut, kemungkinan malah spotnya ditambah. Tapi itu perlu dihitung dulu anggaran kita, dan disesuaikan dengan Telkom. Kan kita ini istilahnya beli spot ke mereka (Telkom). Nanti dihitung dari duit yang kita punya bisa dapat berapa banyak,” ujarnya, Senin (20/1/2020).

Terkait anggaran, Zulkifli belum menyebutkan detail alokasi yang disiapkan untuk tahun 2020. Informasi dihimpun sebelumnya ada sekitar 44 spot di 22 titik yang aktif pada 2017 lalu, kemudian 2018 hanya mampu 17 titik saja, dan 2019 juga jumlahnya tidak jauh berbeda.

“Tapi untuk jumlah titik bisa jadi juga berkurang. Itu tadi, kita perlu hitung dulu. Sesuaikan dengan kemampuan anggaran, apalagi kecenderungan harga barang juga terus berubah,” imbuhnya.

Terkait evaluasi, dirinya menegaskan hal itu pasti dilakukan. Termasuk penentuan penempatan titik spot yang efektif dan tidak. Beberapa yang bakal dievaluasi, di antaranya titik di Taman Tepian Sungai Kayan, disesuaikan dengan tempat umum yang masih dibutuhkan masyarakat. Menurut Zulkifli, pada dasarnya smart city juga berupaya memberikan pelayanan kepada masyarakat secara langsung. Begitupun bagi anak sekolah sehingga beberapa spot smart city ditempatkan di lingkungan sekolah.

“Memang kalau saat ini banyaknya orang di tepian, tetapi selain smart city nyatanya juga sudah banyak jaringan WiFi lainnya baik milik perseorangan maupun lembaga. Misalnya dipinggir itu ada hotel, juga ada dari cafe. Kemudian di Agatis itu juga banyak WiFi dari kantor gubernur. Pastilah kita evaluasi agar lebih efektif,” katanya.

Perkembangan teknologi dan zaman saat ini, lanjut Zulkifli, tentu saja persaingan model layanan terus terjadi. Jika sebelumnya smart city dinilai sebagi “dewa penolong”, saat ini bisa saja tidak demikian. Terlebih dengan jumlah pengguna yang tidak sedikit, tak jarang jaringan smart city lelet.

“Dalam perkembangannya, orang tentu maunya nyaman, itu wajar. Dalam hal ini, kita juga terus berupaya melakukan yang tebaik. Apalagi jaringan internet ini lama-lama bisa-bisa itu (smart city) tidak lagi berguna,” akunya.

Meski begitu, salah satu warga Tanjung Selor, Rianing Desiamah, menilai program tersebut kurang tepat sasaran. Sebab secara umum, efeknya juga tak begitu terasa. Dirinya menyarankan lebih baik program jaringan itu dialihkan yang lebih efektif.

“Sekarang WiFi di mana-mana, hampir sebagian orang sudah pasang indihome di rumah masing-masing. Selain itu, paket data juga harganya lebih terjangkau. Beberapa sekolah juga telah menyiapkan jaringan internet secara mandiri. Mungkin bisa dialihkan saja untuk pemenuhan jaringan di tempat yang masih blank spot,” kata dia. (*)

Sumber : http://korankaltara.com/dinilai-tak-efektif-tahun-ini-spot-smart-city-ditambah/

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Search This Blog

- Copyright © Pusat Robotika Indonesia -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -