Monday, January 13, 2020

Robot Gedek Evolution (2020) turut ditampilkan pada "Symiyouth" di C20 Library and Collabtive Surabaya, Minggu (12/1/2020). Art Exhibition ini juga menampilkan berbagai karya lain serta, bedah karya serta diskusi terbuka.
Sekelompok anak muda menggelar pameran seni Symbiyouth. Pameran yang menghadirkan belasan karya tersebut digelar di C2O Library and Collabtive selama dua hari, yakni Sabtu (11/1) hingga Minggu (12/1).

Ketua pelaksana Symbiyouth, Bagus Aji Pambudi menyampaikan, gelaran tersebut memberi wadah berkolaborasi antar seniman dan komunitas.

"Symbiyouth memiliki arti simbiosis antara anak muda. Kami menghadirkan berbagai seni lintas disiplin dan saling mendiskusikannya," ungkap Bagus

Hal itu, lanjutnya, agar masing-masing seniman dapat saling mengetahui latar belakang dan pengalaman spiritual satu dengan yang lain. Bagus menganggap, kegiatan ini bisa menghilangkan egosentris antar seniman.

"Melalui ini kami ingin mengajak orang lain untuk lebih menghargai berbagI macam seni. Melalui ini, kami bisa lebih mengerti mengapa seniman memilih disiplin ilmunya," kata Bagus.

Salah satu seniman yang turut serta yakni Aji Prasetyo. Alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini memamerkan karya robotic dan microcontroller.

Tergolong sebagai instalasi seni media baru, Aji menghadirkan robot menyerupai sosok manusia. Kerangka kayu pada badannya dilapisi busana yang sedang hype, jaket parasut yang ditumpuk dengan kameja bunga-bunga. Lengkap dengan sepatu putih dan celana jeans.

Robot tersebut dihadirkan dengan kepala berwarna merah. Beberapa paku tertancap di atasnya. Kepala tersebut dapat berputar 360 derajat.

"Kepala merah dengan paku menggambarkan saya sendiri. Saya punya banyak ide yang membuat saya bingung," kata Aji.

Sementara kepala yang berputar, lanjutnya, merupakan simbol dari rasa pusing yang ia rasakan. Adapun warna merah melambangkan rasa sakit.

Karya tersebut, ia mengatakan, sebelumnya diletakkan pada pos satpam di kampungnya. Alasannya, selama ini tidak ada satpam yang menjaga pos yang menjadi batas kampungnya dan perumahan.

"Sebenarnya, robot ini mengenakan seragam satpam. Tapi, karena saat ini tidak bertugas, maka saya ganti bajunya dengan baju hangout," ungkap Aji.

Melalui karya tersebut, Aji ingin menyampaikan bahwa proses kreatif yang ditangkap seniman dalam menciptakan karya tidak lepas dari lingkungannya masing-masing.

"Seperti karya saya yang terinspirasi dari pos satpam di kampung. Sejak 2019 kemarin, karya instalasi seni media baru semakin berkembang. Ini merupakan karya pertama yang saya tampilkan dalam pameran," tandasnya.

Selain Aji, juga ada berbagai karya lain. Seperti Supeni yang menghadirkan batik pada media kayu. Ada juga Emil Fais yang memotret kebudayaan Madura melalui media paku dan benang. Serta berbagai macam desain grafis pada media kaus dan sebagainya.

"Semoga nanti kami bisa berkolaborasi menciptakan satu mahakarya dengan berbagai disipilin yang berbeda," pungkasnya.

Seorang pengunjung, Sabrina Lestari, mengapresiasi gelaran yang termasuk dalam serangkaian acara seni Biennale Jatim 8 tersebut.

"Asik-asik karyanya. Ada desain grafis, robot, kriya batik, logam, dan lain-lain. Saya rasa, ini stimulus yang bagus bagi para seniman untuk terus bisa berkarya dan berkolaborasi," kata Sabrina.

Dari sekian banyak karya, ia paling suka dengan karya Emil Fais yang bertajuk 'Jembatan dan Budaya'.

"Media yang dipilih menarik, menggunakan benang yang dikaitkan dari paku satu ke yang lain. Konsepnya bagus, mengangkat kebudayaan lokal," pungkasnya.

Sumber : https://surabaya.tribunnews.com/2020/01/12/pameran-seni-symbiyouth-wadahi-seniman-lintas-disiplin?page=1

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Search This Blog

- Copyright © Pusat Robotika Indonesia -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -