• Breaking News

    Pasang ”Mata Tajam”, Jeli Tanaman Sehat dan Sakit



    Apresiasi tinggi diberikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof Dr Muhadjir Effendy MAP pada Wahono dan tim. Ini berkat inovasi teknologinya menciptakan drone pintar untuk bidang pertanian. Namanya Motodoro. Rencananya, drone itu akan dilaporkan ke Presiden RI untuk diproduksi masal.

    Embusan angin cukup kencang membelah rambut wartawan Jawa Pos Radar Malang ketika menyaksikan Motodoro diudarakan oleh Akhsanul Hadist, salah satu dari pengembang Motodoro. Di areal laboratorium pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di daerah Tegalgondo, Wahono, sang pencetus drone, tampak sibuk menerangkan kelebihan-kelebihan dari Motodoro sambil mengawasi mesin canggih itu diterbangkan.
    Pesawat teknologi tanpa awak tersebut dirakit oleh empat teknisi. Yaitu Wahono, Akhsanul Hadist, M. Syamsul, dan Abdurrahman.

    Ada tiga jenis drone yang dikembangkan oleh Tim Motodoro. Yaitu, Motodoro Farm Mapper, Motodoro MX, dan Motodoro Spraying Robot Indonesia (SRI). Wahono menjelaskan, untuk Motodoro Farm Mapper berjenis flying wing dengan kemampuan yang lebih efisien karena sekali terbang bisa memetakan sekitar 400–500 hektare lahan pertanian. ”Kalau drone Motodoro MX memiliki kemampuan tidak berbeda dari Motodoro Farm Mapper, tapi daya jangkauannya 700 hektare,” lanjutnya.

    Drone yang ketiga, Motodoro Spraying Robot Indonesia (SRI) memiliki kemampuan yang berfungsi menyiram air, menebar pupuk, bahkan pestisida untuk tanaman. Selain itu, SRI juga memiliki sistem kerja yang mewakili ”mata tajam”. Fungsinya melakukan pemilahan mana tanaman yang sehat dan yang berpenyakit. Sebab, SRI memiliki sensor yang lebih presisi dan lebih akurat secara kuantitatif . ”Pada SRI, ada sensor yang bisa menganalisis tingkat kesehatan tanaman sehingga lebih objektif, tanpa perlu turun ke lapangan,” jelasnya.

    Menurut Wahono, aplikasi untuk pupuk dan pestisida oleh SRI ini cerdas. Sebab, dia hanya menyemprot pada tempat yang membutuhkan dan dalam jumlah yang diperlukan dengan kapasitas 23 liter. Dalam durasi satu jam saja bisa menjangkau area lahan seluas 10 hektare.

    ”Yang SRI bisa untuk nyemprot seperti obat-obatan tanaman untuk mencegah hama, bisa nyiram juga,” jelas dosen Fakultas Pertanian UMM ini.

    Wahono juga menjelaskan bahwa teknologi yang dia kembangkan tidak memakai jaringan internet. Malah dia menghindari ketergantungan internet. ”Kan kita tahu di Indonesia internet belum full coverage, bakal susah nanti kalau di area di luar jangkauan internet,” terangnya. Sedangkan untuk pembuatan satu unit drone ini membutuhkan waktu sekitar 3–4 bulan dengan biaya ratusan juta rupiah.

    Hingga saat ini musuh dari Motodoro ini soal cuaca. Yakni, ketika ada angin besar, maka air, pestisida, hingga pupuk tidak dapat mengenai tanaman dengan spesifik. ”Jadi, air larinya terkena angin, kendala cuaca aja sih, sudah 3 tahun gak ada kendala lainnya,” jelasnya.

    Awal ide mengembangkan Motodoro ini karena pertanian di Indonesia perlu adanya perbaikan dan perkembangan. Untuk itulah teknologi di bidang pertanian perlu banyak inovasi. ”Ya sebagai orang pertanian, saat ini memang perlu adanya reformasi,” ungkapnya.

    Dengan dikembangkannya model pertanian pintar melalui tiga jenis drone ini, Wahono berharap mampu menyelesaikan berbagai persoalan pertanian di Indonesia. ”Lewat model pertanian ini kita bisa meningkatkan produktivitas tanaman serta mengefisiensi biaya,” ucapnya.

    Akhsanul Hadist, salah seorang teknisi Motodoro, menceritakan awal mula mereka bergabung. Hadist yang tergabung dalam komunitas drone itu begitu kenal Wahono langsung diajak bikin project Motodoro tersebut. ”Kami awalnya hanya berdua, saya dari komunitas drone. Terus 2 orang lain bergabung, Syamsul dan Abdurrahman,” tukasnya.

    Sumber : https://radarmalang.id/pasang-mata-tajam-jeli-tanaman-sehat-dan-sakit/

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad