• Breaking News

    Luar Biasa, Tim Robotik MAN 1 Bukittingi Produksi Alat Hand Sanitizer Tanpa Sentuh

    Luar Biasa, Tim Robotik MAN 1 Bukittingi Produksi Alat Hand Sanitizer Tanpa Sentuh
    Zulkhairi, guru Alquran Hadits MAN 1 Bukittinggi tengah merakit Handsamtu Electrik Hand Sanitizer dari galon bekas di ruang robotik. (foto: Gatot

    Berbagai cara dilakukan oleh berbagai pihak untuk memutus mata rantai penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Hal ini pula yang dilakukan oleh tim robotik MAN 1 Kota Bukittinggi, yang mencoba memproduksi Handsamtu Electrik Hand Sanitizer.

    Handsamtu Electrik Handsanitizer adalah produk pencuci tangan otomatis yang bekerja tanpa harus menyentuh produk tersebut. Sebab, produk pencuci tangan yang diproduksi tim robotik MAN 1 Bukittinggi ini, dilengkapi dengan alat sensor ultrasonik yang dapat mendeteksi jari tangan dengan jarak dekat. Dengan mendekatkan jari tangan ke mulut semprotan handsamtu, maka cairan sanitizer akan keluar secara otomatis.

    “Produk Handsamtu Electrik Hand Sanitizer yang kita produksi ini ada tiga versi. Untuk versi pertama sudah kita produksi 2 buah, dan versi ke dua 3 buah. Sedangkan untuk Handsamtu versi tiga, saat ini tengah kita kembangkan,” ujar penggagas sekaligus pelatih robotik MAN 1 Bukittinggi, Zulkhairi, saat dihubungi HarianHaluan.Com, Minggu (5/4).

    Zulkhairi menjelaskan, dari masing-masing Handsamtu yang telah diproduksi memang memiliki keunggulan dan kelemahan. Adapun keunggulan untuk Handsamtu versi pertama adalah, bisa mengeluarkan semprotan sabun pembersih secara otomatis tanpa harus menyentuh, memutar, dan menekan gagang hand sanitizer.

    Sedangkan kelemahannya, katanya lagi, adalah tidak bisa mendeteksi apakah seseorang yang akan memasuki ruangan sudah mencuci tangan atau belum. Kemudian air sabun pembersih cepat habis, karena banyak anak-anak yang menjadikan alat ini sebagai bahan permainan, karena mereka melihat air sabun bisa keluar otomatis.

    Untuk memperbaiki kelemahan Handsamtu versi pertama ini, terang Zulkhairi, maka tim robotik MAN 1 mencoba untuk menyempurnakannya ke versi ke dua. Adapun kelebihan Handsamtu versi ke dua ini adalah bisa mendeteksi orang yang akan mendekat ke arah cuci tangan, bisa mendeteksi orang yang sedang cuci tangan, dan bisa mengeluarkan suara sebagai pertanda ada orang yang mendekat ke lokasi tempat cuci tangan.

    Untuk kelemahan Handsamtu versi dua ini adalah, tidak bisa menampilkan pesan suara yang berbentuk imbauan agar menjaga kebersihan atau cucilah tangan sebelum memasuki ruangan. Suara yag keluar hanya suara beeeppp.

    Untuk memperbaiki kelemahan handsamtu versi dua ini, ujar Zulkhairi, maka dikembangkan versi 3. Kelebihan versi 3 ini adalah, ketika sensor mendeteksi ada orang yang mendekat handsamtu, maka secara otomatis terdengar suara imbauan, seperti, 'pengunjung yang terhormat biasakanlah mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan'.

    Kelebihan lainnya adalah, anak-anak tidak bisa menjadikan alat ini sebagai bahan permainan, karena sensor akan mendeteksi keberadaan anak anak yang sedang memainkan hand sanitizer otomatis. Apabila ada anak-anak yang memainkan alat ini, maka akan terdengar suara keras pertanda ada orang yang masih memainkan hand sanitizer.

    “Jadi pada Handsamtu versi tiga ini, ada tambahan modul mp3 untuk mengeluarkan pesan suara imbauan atau suara keras pertanda ada yang memainkan hand sanitizer,” ucap Zulkhairi, yang juga selaku guru Alquran Hadits MAN 1 Bukittinggi.

    Lebih lanjut ia menyampaikan, untuk perakitan dan pemograman Handsamtu Electrik Hand Sanitizer membutuhkan waktu sekitar 90 menit atau 1,5 jam jika bahan lengkap. Bahan yang dibutuhkan itu diantaranya Arduino uno atau Nano, Motor Servo, Sensor ultrasonic atau sessor IR, botol bekas semprotan pembersih kaca, Program Arduino, Buzzer, Modul mp3, kabel dan timah solder secukupnya, dan lem lilin atau silicone. Untuk kotaknya bisa dibuat dari kardus bekas atau bisa dari bahan akcrylic.

    Produk Hansamtu Electrik Hand Sanitizer ungkapnya, sangat bagus untuk pencegahan penularan Covid-19, karena produk handsamtu bekerja secara otomatis tanpa harus menyentuhnya secara langsung. Beda dengan hand sanitizer yang disediakan ditempat tempat fasilitas umum yang bekerja secara manual. Artinya orang yang menggunakannya harus menyentuh dan menekan tombol pencet sanitizer, yang bisa saja kuman atau virus menempel di benda tersebut, sehingga berpotensi dalam penularan Covid 19.

    “Untuk memproduksi dalam jumlah banyak kita sangat terkendala, seperti bahan robotik harus beli dari Jakarta, komponen robot harganya cukup mahal, dan perakitannya juga di sela-sela jam istirahat atau waktu luang, karena saya juga harus mengajar. Handsamtu yang kita produksi ini juga didukung oleh kepala sekolah. Kalau ada permintaan dari masyarakat kita juga siap untuk memproduksinya,” ungkap Zulkairi.

    Handsamtu yang diproduksi ini, ulasnya, termotivasi karena kurang efektifnya penggunaan sarana cuci tangan yang berada di tengah-tengan masyarakat, karena masih terjadi sentuhan terhadap benda yang sama oleh orang banyak, yang dikhawatirkan akan menularkan virus secara berantai.

    “Kita melihat hand sanitizer yang disediakan difasilitas umum masih menyentuh dan menekan tombol pencet sanitizer, yang bisa saja kuman atau virus menempel di benda tersebut, sehingga berpotensi dalam penularan Covid-19. Melihat kondisi tersebut, kami termotivasi untuk membuat handsanitizer otomatis melalui sensor ultrasonik, sebagai upaya mengurangi potensi penularan bakteri maupun virus,” tukasnya.

    Zulkhairi menambahkan, di balik kreatifitas seorang guru dalam berkarya ada kepala sekolah dan bendahara hebat dibelakangnya. Sebab, sehebat apupun gagasan yang dimiliki kalau tidak didukung oleh kepala sekolah, maka gagasan itu hanya tinggal di pikiran saja. (*)

    Sumber : https://www.harianhaluan.com/news/detail/91599/luar-biasa-tim-robotik-man-1-bukittingi-produksi-alat-hand-sanitizer-tanpa-sentuh

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad