• Breaking News

    Pandemi Covid-19 Picu Society 5.0

     


    ILUSTRASI teknologi kecerdasan buatan (AI).* /Pixabay

    Revolusi industri adalah perubahan yang terjadi terhadap cara manusia dalam mengolah sumber daya dan memproduksi barang. Revolusi industri telah ada sejak tahun 1.700-an.

    Revolusi industri 1.0 pertama kali terjadi pada abad ke-18, yang ditandai dengan penemuan mesin uap untuk menghasilkan barang. Mesin tersebut berhasil mensubstitusikan peralatan kerja yang bergantung pada manusia dan hewan.

    Pada abad ke-20, revolusi industri 2.0 hadir dengan ditemukannya tenaga listrik. Lain halnya dengan revolusi industri 1.0 dan 2.0, revolusi industri 3.0 dipicu oleh mesin yang dapat berpikir otomatis dan mampu bergerak, yaitu komputer dan robot. Setelah itu, muncul revolusi industri 4.0 yang menggabungkan teknologi siber dan otomatisasi.

    Salah satu institusi pendidikan unggulan bidang sains, teknologi dan desain, yang berbasis di Batam, Kepulauan Riau, adalah Institut Teknologi Batam (ITEBA), juga memberi perhatian pada lulusan berkualitas bidang teknologi. ITEBA merangkum perbedaan dua revolusi industri ini. Simak ulasannya yang dirangkum oleh Warta Pontianak :

    Revolusi Industri 4.0

    Revolusi 4.0 identik dengan industri konsumsi massal  (mass consumption). Revolusi industri ini mengombinasikan media robotik dengan kecerdasan buatan yang dikenal dengan artificial intelligence dan Internet of Things (IoT).

    Hal itu bertujuan menekan biaya produksi untuk memenuhi kebutuhan massal konsumen. Selain itu, kombinasi dengan dunia robotik juga bertujuan untuk menciptakan proses yang lean (simpel).

    Saat ini, Indonesia sedang beradaptasi dengan perkembangan industri 4.0. Adaptasi ini juga didukung oleh situasi pandemi. Penyebaran pandemi COVID-19 yang belum berhenti hingga kini telah mengubah tatanan hidup masyarakat menjadi bergantung pada teknologi.

    Beragam kegiatan telah dilakukan secara virtual, seperti kebijakan belajar di rumah bagi siswa, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Selain itu, adanya kebijakan Work from Home (WFH), yang pada mulanya dilaksanakan karena terpaksa, kini telah menjadi kebiasaan baru.

    Pandemi berhasil menyadarkan masyarakat tentang revolusi industri 4.0. Dengan hal tersebut, teknologi menjadi lebih sering digunakan, bahkan menjadi kebutuhan hidup sehari-hari.

    Indonesia masih dalam tahap adaptasi terhadap revolusi industri 4.0. Sementara itu, beberapa negara kini sudah mulai bersiap ke era industri selanjutnya, yaitu Society 5.0.

    Menyambut Society 5.0

     

    Society 5.0 adalah era saat semua teknologi adalah bagian dari manusia. Internet tak hanya digunakan sebagai informasi, melainkan untuk menjalani kehidupan. Dengan demikian, perkembangan teknologi dapat meminimalisir adanya kesenjangan pada manusia dan masalah ekonomi di kemudian hari.

    Berdasarkan penelitian “Memahami Tren Konsumen Masa Kini” yang ditulis oleh Technology International, Neurosensum, ditemukan bahwa 60% milenial cenderung melakukan pembelian yang mendukung mereka untuk berekspresi.

    Artinya, karakteristik pasar di era selanjutnya akan lebih mendambakan produk yang spesifik, unik, dan adjustable (personalisasi). Dengan demikian, era ini tidak akan dikenal sebagai era industri, namun era Society 5.0, saat semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri.

    Tingginya generasi milenial sebagai konsumen utama, membuat society 5.0 semakin unik sehingga berdampak pada perubahan industri di masa depan. Menurut Kilber, J., Barclay, A., & Ohmer, D., dalam penelitiannya berjudul “Seven Tips for Managing Generation Y” (2014), milenial merupakan generasi internet minded dengan kepercayaan diri tinggi serta lebih terbuka dan toleransi terhadap perubahan. ***


    sumber: hhttps://wartapontianak.pikiran-rakyat.com/ototek/pr-117965249/pandemi-covid-19-picu-society-50


    Ayo Ikuti Event Online Bersama APTIKNAS. silahkan Cek di Eventcerdas.com

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad