• Breaking News

    Masih "Manusiawi" kah Teknologi Kita?

     

    Apa waktu yang lalu sedang ramainya membahas Revolusi Industri 4.0, mulai dari kalangan pemerintah, akademisi, pengelola start up, hingga masyarakat tongkrongan di warung kopi pun tidak lepas dari isu yang hangat ini. Semakin berkembang luasnya diskusi tersebut, maka semakin dapat kita lihat di tengah masyarakat terjadi dualistis dalam memandang persoalan ini.

    Kelompok pertama terdiri dari orang-orang yang berfikiran secara utopia terhadap teknologi cenderung mengedapankan pola pikir berbasis logika, sehingga fanatik terhadap teknologi. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari orang-orang yang berfikiran secara distopia terhadap teknologi cenderung mengedepankan sisi humanistis, sehingga dalam pemikiran dan perilaku bersifat hati-hati terhadap penggunaan teknologi.

    Oleh karena itu pada suatu kondisi nanti di Indonesia, bisa saja persoalan ini menyentuh titik kritis dan mengakibatkan gejolak di antara kedua belah pihak ini. Maka komunikasi (baik interpersonal ataupun intrapersonal) lah yang akan memegang peran penting karena khalayak terhubung secara beragam.

    Pada saat negara-negara lain sibuk membahas, menerapkan, hingga mengevaluasi Revolusi Industri 4.0 ini, di Jepang sudah memperkenalkan era Society 5.0 dimana teknologi digital diaplikasikan dan berpusat pada kehidupan manusia. Jika konsep Revolusi Industri 4.0 penerapannya berpusat pada kecerdasan buatan (artificial intelligence) maka Society 5.0 diklaim sebagai "solusi" dari dampak yang diakibatkan oleh Revolusi Industri 4.0.

    Society 5.0 merupakan revolusi industri yang dirumuskan oleh Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada bulan Maret 2017 saat pameran CeBIT (Centrum der Büro- und Informationstechnik) -yang merupakan pameran komputer terbesar di dunia- di Hannover, Jerman untuk menangani segala permasalahan yang terjadi di Jepang dan baru diresmikan pada 21 Januari 2019. Dimana pada saat itu Jepang sedang mengalami sebuah tantangan yang sangat vital yaitu berkurangnya populasi penduduk (pekerja) usia produktif, sehingga Jepang berusaha memperbaiki kondisi tersebut dengan menerapkan Society 5.0.

    Society 5.0 dianggap sebagai "solusi" dari Revolusi Industri 4.0 dikarenkan anggapan bahwa penggunaan mesin-mesin berteknologi canggih akan menekan jumlah pekerjaan yang dilakukan oleh manusia, sehingga harapannya Society 5.0 bisa menciptakan nilai baru dalam perkembangan teknologi canggih yang mengurangi kesenjangan antara manusia dengan masalah ekonomi ke depannya. Sehingga sinergi manusia dan teknologi bisa terwujud agar masyarakat semakin sejahtera.

    Namun jika kita lihat jauh ke belakang kembali, polemik antara majunya teknologi dan tergerusnya moral (humanistis) bukan persoalan baru teman-teman. Jauh sebelum majunya teknologi, para filsuf pun berdebat persolan antara teknologi dan etika, terutama agama yang paling gencar membahas persolan moral (selain filsafat moral). Teknologi dijadikan alat oleh kapitalis dalam meraup keuntungan sebesar-besarnya dan mengabaikan sisi moral.

    Pada era digital saat ini dapat kita lihat bahwasanya dengan majunya teknologi informasi di bidang media, maka perusahaan teknologi internasional semakin masif memonopoli bidang informasi dan media, meski mereka tetap menganggap dirinya perusahaan berbasis teknologi (padahal teknologi tidak hanya persoalan media saja). 

    Hal ini dengan sangat menarik dan jelas disampaikan oleh Jeff Orlowski (alumnus Stanford) melalui film dokumenter nya yang sangat fenomenal pada tahun 2020 lalu dengan judul "The Social Dilemma". Jika teman-teman belum menonton film ini, maka saya sangat merekomendasikannya. Meskipun ini film dokumenter, namun penyajiannya sangat jauh dari kesan "membosankan" yang terlabel pada kebanyak film dokumenter.

    Film The Social Dilemma menampilkan banyak sekali pencerahan dan wawasan dari beberapa orang yang merupakan pakar serta pegawai yang pernah bekerja di perusahaan teknologi (sosial media) besar dunia, yang menceritakan tentang bagaimana teknologi ini dirancang dan dikalibrasi untuk memanipulasi psikologi manusia demi meraih keuntungan (uang, kekuasaan, dll) sebesar-besarnya. 

    Film ini menyelam jauh ke dalam sisi buruk teknologi seperti kecanduan media sosial, penyebaran informasi yang salah (hoaks), dampak negatifnya pada kesehatan mental kita, bahkan peran potensial dalam jatuhnya institusi demokrasi suatu negara.

    Orlowski sendiri menegaskan bahwasanya film ini bukan berarti mengarahkan penonton pada sifat pesimis. Namun dia mengingatkan agar tetap optimis terhadap teknologi dengan cara mengubah teknologi dan media sosial agar dapat digunakan secara manusiawi, atau bahkan untuk kemajuan bersama. 

    Dalam pembuatannya, film ini didukung oleh Center for Human Technology (dapat dikunjungi di www.humanetech.com)-lembaga nonprofit independen- yang bertujuan untuk mendorong pergeseran komprehensif menuju teknologi manusiawi yang mendukung kesejahteraan, demokrasi, dan lingkungan informasi bersama.

    Jika kita merujuk pada sila ke 2 pancasila yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab, maka sudah sangat jelas di sana disampaikan bahwasanya konsep kemanusiaan itu ya adil dan beradab, bukan konsep kemanusiaan yang bebas seperti di barat. 

    Namun adil dan beradab itu adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan fitrah penciptaannya. Sehingga hal yang harus kita ingat adalah, bagaimana agar nilai semangat humanistis dan teknologi perlu diselaraskan agar menjadi bagian yang tidak membawa keburukan di kehidupan manusia.

    Sumber: https://www.kompasiana.com/udazaid/60222b20d541df39ba2d2b52/masih-humanistis-kah-teknologi-kita?page=2

    https://www.kompasiana.com/startmeup/602342c48ede48704c497bd2/usaha-kemenperin-kebut-produk-asli-bangga-buatan-indonesia 

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad