• Breaking News

    Manifesto HMI di Era Society 5.0


    Pada 17 Desember 2010, atau lewat sepuluh tahun yang lalu, seorang pemuda 26 tahun bernama Mohammed Bouazizi di Tunisia melakukan aksi bakar diri di depan kantor pemerintahan. Aksinya ini dipicu oleh kemarahan dirinya terhadap pegawai pemerintah yang kerap menagih uang sogokan agar terus membiarkannya terus berjualan sayur dan buah secara ilegal di pinggir jalan raya. Aksi Bouazizi ini sempat terekam kamera, dengan cepat rekaman dan kisah pemuda itu tersebar melalui platform media sosial Twitter.

    yang berhasil menggulingkan diktator Ben Ali yang sudah berkuasa selama 23 tahun, namun juga memicu gelombang aksi massa secara regional yang kita kenal kemudian sebagai ‘Arabic Spring’ di mana sejumlah diktator negara-negara Kawasan Timur Tengah digulingkan oleh rakyatnya.

    Sebuah artikel investigasi berjudul The Thruth About Twitter, Facebook and the Uprising in the Arab World yang ditulis oleh Peter Beaumont dan dipublikasikan di The Guardian pada bulan Januari 2011 pertama kali membangun argumentasi jika era kekuatan media sosial di ranah politik telah dimulai. Ini menandai keterlibatan yang lebih luas bagi publik untuk lepas dari rezim yang mereka anggap mencengkeram mereka.

    Belakangan, dari situ kita buktikan sendiri, jika media sosial adalah artefak digital yang menjadi pionir bagi pembentukan masyarakat virtual. Sederhananya, sebuah era baru telah dimulai. Pada perkembangannya kemudian, kekuatan ini mulai dilirik oleh para konsultan politik untuk digunakan sebagai pendongkrak elektabilitas dan pengawal kebijakan penguasa dengan skema yang lazim digunakan juga pada strategi marketing product. Lalu kemudian, lahirlah buzzer-buzzer yang berkembang menjadi mata pencaharian baru yang digunakan untuk mengamankan kepentingan penguasa suatu negara.

    Gambaran perkembangan media sosial ini adalah salah satu aspek yang menjadi bagian dari begitu banyak diskursus tentang era disrupsi. Perkembangan dunia bergeliat dengan cepat, berkelindan dan mencerabuti norma-norma kuno yang selama ini bertahan semenjak peradaban manusia dimulai. Dinamika ini adalah tonggak dari pesatnya dunia dalam paket revolusi industri 4.0 yang diwarnai dengan digitalisasi semua sektor kehidupan.

    Fenomena ini terjadi di mana-mana. Di Indonesia bisa kita lihat dengan semakin meningkatnya penetrasi pengguna internet yang signifikan, berbanding lurus dengan polarisasi di masyarakat sebagai akibat dari runcingnya pertarungan politik di kanal virtual. Sementara itu, produk-produk digital, pekerjaan yang terdigitalisasi, serta e-commerce, semua hal yang berbau ekosistem digital, statistik penggunaannya kian menjulang. Ekosistem ini bertranformasi menjadi tren yang mau tidak mau mengundang keterlibatan kita semua untuk berada di dalamnya.

    Lalu kemudian, bagaimana kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melihat dinamika yang disruptif ini? Bagaimana kita sebagai organisasi yang hampir seusia Indonesia, mencerna arah perkembangannya? Sebagai entitas pemuda-pelajar-muslim, apakah kita hanya akan berhenti pada aspek yang semarak dengan hiruk-pikuk politik, yang pada substansinya juga berubah sebagaimana gambaran tiga paragraf pembuka di atas? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mari kita kupas satu-persatu dalam manifesto dan roadmap transformatif ini.

    Antara Era Industri 4.0 dan Era Society 5.0

    Pemahaman fundamental kita terhadap era industri 4.0 selama ini berkutat pada penggunaan teknologi digital yang tidak terbatas, berkembangnya algoritma kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Cloud, teknologi Big Data dan lain sebagainya, kita terpaku pada proyeksi kemunculan teknologi-teknologi baru yang selalu muncul tiap hari. Kita lupa bahwa pemahaman kita ini ternyata tidak mengantar kita untuk keluar dari paradigma follower seperti yang selama ini melekat pada komunitas kita sebagai populasi konsumen.

    Kita bisa acuh ketika profesi teller di bank digantikan oleh mesin ATM, kita baru kaget ketika posisi Customer Service di bank hendak tergantikan oleh mesin CSD (Customer Service Digital). Apa implikasinya? Tentu saja keterkejutan kita itu sudah terlambat lebih dari dua dekade, sementara di era disrupsi, terlambat satu hari saja berarti kita sudah tertinggal jauh di belakang.

    Ketertinggalan kita kader HMI setidak-tidaknya tergambar dari kesibukan kita pada persoalan internal organisasi yang selalu diwarnai dengan konflik kepentingan, yang berikutnya adalah ketertinggalan kita dalam membaca gerak laju perkembangan dunia. Kedua hal mendasar inilah yang membuat kita terdampar dalam peran sebagai konsumen, bukan inovator atau pemegang peran utama di era ini. Situasi ini harus diubah dengan segera, kita harus merebut peran yang jauh lebih krusial dari sekedar konsumen. Karena itulah, hal pertama yang harus kita ganti adalah pemahaman fundamental kita terhadap hakikat yang melekat pada era ini.

    Perlu digarisbawahi, era Industri 4.0 bukan saja bermakna digitalisasi terhadap berbagai sektor kehidupan, lebih dari itu, era ini juga berdiri di atas pilar yang menjamin mobilitas manusia, energi yang terbarukan, kesehatan dan angka harapan hidup yang meningkat, serta kesejahteraan yang merata. Pilar-pilar ini relevan dengan perwujudan karakter lima insan cita di HMI. Karena itu, maka konsep digitalisasi organisasi yang perlu kita menifestasikan dalam transformasi gerakan HMI kedepan haruslah berorientasi pada manusianya; technology for human bukan human for technology.

    Intisari penting dari perubahan pemahaman fundamental kita terhadap era ini adalah keharusan menerapkan orientasi yang lebih humanistik. Kita perlu belajar dari apa yang dideklarasikan Jepang melalui konsep Society 5.0-nya. Jepang yang telah puluhan tahun menjadi negara pelopor industri maju tentu punya segudang pengalaman yang mengarahkan mereka untuk ‘kembali pada manusia’. Society 5.0 adalah jalan keluar dari kesenjangan yang semakin nyata antara manusia dengan akses-akses terhadap ruang kemakmuran, idenya adalah menjadikan teknologi dan manusia agar bisa bersinergi, sehingga kedepan, teknologi bisa memfasilitasi terwujudnya masyarakat yang makmur dan berkeadilan sesuai dengan pilar-pilar humanistik yang mendasari konsep industri 4.0 itu sendiri.

    Implementasi, Kolaborasi dan Inovasi

    Jika pemahaman kita terhadap era ini sudah kita ubah, mari kita melangkah ke tahapan paling pentingnya, yakni implementasi praktis. Pertama-tama, kita mulai dengan mengimplementasikan apa saja yang selama ini masih berada di ruang ide. Sebutlah misalnya selama ini, ternyata kita punya kader-kader HMI yang memiliki kemampuan di berbagai bidang dengan esensi futuristik, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk bergotong-royong agar ide-ide tersebut bisa direalisasikan, bagaimanapun caranya.

    Mungkin, saat ini kebutuhan paling mendasarnya adalah keberadaan suatu platform akomodatif, setidak-tidaknya dalam bentuk super apps yang didalamnya terintegrasi fitur-fitur beragam yang berkaitan dengan kebutuhan internal di HMI dan bisa difungsikan sebagai wadah pengembangan ide-ide di bidang entrepreneurship seperti digital start up. Secara kolaboratif, kita perlu mendorong ini agar terealisasi secara masif. Kedepan, kita akan melihat kemandirian kader di bidang ekonomi, dengan kemandirian ini maka pergerakan kader akan semakin inklusif dan progresif, tanpa terikat kepentingan eksternal apapun lagi.

    Selanjutnya adalah menyelenggarakan ekosistem kolaboratif dan partisipatif. Kita tahu bersama bahwa era ini membutuhkan kolaborasi bukan kompetisi yang terus-menerus. Bayangkan, ada kurang lebih 4 juta kader dan alumni di Indonesia, jika saja ada satu kanal yang bisa menghimpun mereka kembali untuk berkolaborasi, maka kita bisa tebak hasil yang sangat luarbiasa kedepannya.

    Kolaborasi pada tahap selanjutnya akan membuka jalan bagi terlahirnya kader-kader yang inovatif, melalui kolaborasi pula inovasi-inovasi diselenggarakan, menjelma menjadi artefak-artefak yang diproyeksikan sebagai bagian dari keterlibatan HMI dalam meramaikan era ini dengan peran sebagai produsen, bukan konsumen.

    Dalam jangka Panjang, pemosisian peran ini akan menjadikan kita sebagai representasi pemuda Islam yang terus bersaing di era ini dengan teknologi dan sains. Dengan begitu, perwujudan pergerakan kita akan sejalan dengan upaya-upaya menjaga norma kontemporer di era ini. Di masa depan, kita secara konstan akan berada dalam lajur isu besar seperti penemuan energi terbarukan, peningkatan usia harapan hidup, lingkungan hidup yang terjaga, perlawanan terhadap penguasa oligarkis-kapitalistis dan kesejahteraan yang merata.

    Pada akhirnya, dengan ikhtiar digitalisasi HMI yang dimanifestasikan dalam bentuk pemahaman yang mendalam terhadap dinamika era disrupsi serta gerakan-gerakan implementatif-akomodatif-kolaboratif, kita bisa menunjukkan nilai-nilai paling khas dari posisi yang hendak diambil HMI guna terlibat dalam agenda-agenda krusial di era disrupsi ini.

    Sumber: https://kumparan.com/gagasantaufan/manifesto-hmi-di-era-society-5-0-1vHNRD7Q8eU/full

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad