• Breaking News

    Melawan Teknologi dengan Ideologi

     

    Teknologi dan Pancasila

    Selamat datang di revolusi industri 4.0. Terdengar seperti kalimat klise yang sudah lama digaungkan. Akan tetapi, apakah kita benar-benar sadar dengan istilah revolusi industri itu sendiri? Menurut KBBI, revolusi industri berarti “perubahan radikal dalam usaha mencapai produksi dengan menggunakan mesin-mesin, baik untuk tenaga penggerak maupun untuk tenaga pemroses”. Tidak perlu seorang ahli Bahasa untuk mengambil makna dari pengertian tersebut. Intinya adalah, perubahan untuk kemudahan. Tidak berhenti sampai di situ, terdapat kata krusial dalam pengertian yang telah disebutkan di atas, yaitu radikal. Tentu ini berarti bukan “sekadar” perubahan melainkan menuju sebuah revolusi secara drastis.

    Berdasarkan sejarah, revolusi industri memang telah merombak tata cara hidup masyarakat. Mulai sejak mesin uap pertama kali hadir, berubah menjadi mesin produksi massal, hingga mesin-mesin otomatis yang terintegrasikan oleh internet. Semua perubahan dengan sukses sekaligus mengubah bagaimana masyarakat hidup. Revolusi industri menghasilkan teknologi. Teknologi menghasilkan standar hidup yang baru, dan sekali lagi, mari kita sambut, revolusi industri yang keempat.

    Lalu sebenarnya, apa yang membuat revolusi industri keempat ini begitu spesial? Dari ketiga revolusi sebelumnya, hanya pada revolusi inilah semua berkembang dengan sangat cepat. Cukup dua belas bulan bagi kita untuk melihat smartphonedengan fitur terbaru, Cukup dua belas detik bagi kita untuk mendapat informasi terbaru, dan cukup dua belas detik bagi kita untuk berbincang tanpa melihat kesamaan lokasi. Salah satu produk krusial dari revolusi ini adalah internet.

    Sekadar informasi bagi para pembaca yang mungkin tertinggal tentang kecanggihan teknologi saat ini, saya akan membeberkan beberapa. Saat ini, pabrik-pabrik telah memakai internet untuk menegolah produk mereka,artificial intelligence digunakan di hampir seluruh aplikasi pada smartphone Anda, dan dunia sedang mengembangkan robot berukuran nano untuk menyembuhkan kanker. Betapa luar biasanya hal-hal baru yang terjadi setiap hari dan hal itu terus dikembangkan. Tidak akan cukup sebuah paragraf untuk menjelaskan betapa luar biasanya teknologi bergerak begitu cepat.

    Satu yang menjadi perhatian saya, yaitu teknologi internet. Internetlah yang paling banyak mengubah aspek sosial bermasyarakat. Beragam fasilitas yang dapat kita gapai dengan mudah menggunakan internet. Hal yang paling banyak diminati masyarakat Indonesia adalah media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Tiktok, Youtube, dan masih banyak lagi. Penyimpangan kerap kali terjadi akibat penggunanaan internet yang tidak bijak. Dalam hal ini, penyimpangan yang terjadi ialah penyimpangan terhadap nilai-nilai Pancasila dan kearifan leluhur yang telah melekat pada masyarakat Indonesia sejak lama. Pembaca yang aktif berselancar di internet pasti dapat merasakan ‘atmosfernya.

     Hal yang akan saya bahas pertama adalah komunikasi media sosial. Media sosial benar-benar mengubah bagaimana kita berinteraksi dengan sesama manusia. Seringkali masyarakat melupakan aspek-aspek etika dan moral dalam berkomusikasi di media sosial. Padahal, Indonesia dicap oleh masyarakat dunia sebagai penduduk yang ramah, tetapi sepertinya hal tersebut tidak berlaku di dunia maya. Ujaran kebencian, umpatan, makian, dan kalimat negatif lainnya sangat mudah ditemukan di berbagai media yang ada.

    Yang kedua adalah bagaimana masyarakat kita dengan mudah menangkap suatu ide-ide dari luar yang tidak sesuai dengan ideologi yang dimiliki masyarakat Indonesia. Hal ini bisa dibilang jadi salah satu penyebab terkikisnya etika dan moral masyarakat seperti yang telah disebutkan dalam poin pertama. Selain itu, bahaya yang ditimbulkan dari masuknya ide-ide baru ini lebih berbahaya. Ide dapat berkembang menjadi ideologi. Ideologi mempengaruhi bagaimana individu melakukan aktivitas sosialnya. Ideologi yang telah menancap begitu kuat, sangat sulit untuk diubah. Apabila ideologi yang telah menancap tersebut bertentangan dengan nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia, tentu akan memberikan dampak negatif dan dapat menularkan efek negatif tersebut ke sekitarnya.

    Poin yang ketiga adalah mudahnya masyarakat Indonesia saling beradu domba akibat kesalahpahaman dan hoaks. Aliran informasi mengalir dengan begitu cepat. Tak jarang, informasi palsu, lebih cepat menyebar daripada yang fakta. Terlebih, masyarakat saat ini masih terkotak-kotak oleh berbagai perbedaan yang ada. Berbeda agama, berbeda pilihan politik, berbeda aliran, berbeda paham, dan banyak perbedaan remeh lainnya yang entah kenapa selalu muncul sebagai konflik yang rumit. Padahal, apabila kita menerima informasi dengan dengan kepala dingin, persatuan bukanlah hal yang sulit.

    Ada satu hal yang penting untuk diketahui semua orang terkait media sosial. Mengapa kita harus berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Hal apa saja yang dapat ditimbulkan hanya dari media sosial. Semua ini disebabkan oleh data dan algoritma. Sedikit informasi, algoritma adalah sebuah proses dalam media sosial yang melibatkan data dari pengguna. 

    Algoritma adalah otak dari sebuah aplikasi. Algoritma mengetahui konten yang anda sukai dan yang anda benci. Algoritma memberikan rekomendasi terus menerus sesuai hal yang disukai oleh setiap pengguna. Algoritma juga yang menentukan arus informasi yang sesuai dengan pengguna. Algoritma tidak dapat bekerja apabila tiada data. data seperti sebuah ilmu baru yang apabila algoritma telah menguasainya, maka algoritma tersebut semakin cerdas. Kedengarannya hebat bukan? mAkan tetapi, dibalik itu, menyimpan sebuah efek samping yang cukup mengerikan.

    Sekali lagi, algoritma mengetahui hal-hal yang pengguna sukai sehingga otomatis algoritma akan memberika tayangan yang mirip terus menerus. Selain membuat pengguna kecanduan, aliran informasi yang sama terus menerus dapat menyempitkan pandangan individu terhadapt suatu hal. Contoh seseorang menyukai teori bumi datar. Otomatis, algoritma akan terus memberikannya tayangan bahwa bumi itu datar. Seseorang yang terpapar informasi yang sama terus menerus dapat membuat seseorang yakin bahwa pemikirannya selama ini benar tanpa ingin mengetahui kebenaran lainnya. Hal ini berlaku juga dalam bidang sosial, agama, politik, dan isu sensitif lainnya. Pandangan sempit inilah yang menyebabkan mudahnya menghina pandangan lain dan merasa idenya yang paling benar. Jika sudah mencapai titik ini, perpecahan menjadi hal yang lumrah.

    Kemungkinan kasus terburuk yang disebabkan media sosial adalah hilangnya demokrasi. Bagaimana sebuah aplikasi dapat menyebabkan hal tersebut? mJawabannya pun hampir sama. Karena aliran informasi. Aliran informasi yang dibawa oleh media masa, apabila diatur sedemikian rupa sehingga semua informasi tepat sasaran maka pendapat semua orang dapat disamakan. 

    Seseorang yang sejak awal mendukung paslon ‘x dapat mengubah keputusannya akibat informasi menyesatkan terus menerus. Seseorang yang tidak ingin mendukung siapa pun, dapat berpihak ke salah satu paslon setelah menerima informasi yang persuasuif terus menerus. Demokrasi menjadi sesuatu yang dapat diatur. Apakah hal ini dapat terjadi? mEnurut beberapa sumber, hal ini kemungkinan telah terjadi saat pemilu tahun 2016 di negara adidaya, Amerika Serikat.

    Itulah teknologi, bagai pisau bermata dua, kita telah merasakan kemudahan dan kenyamannya namun kerugian yang dihasilkan pun bukan sembarangan. Karena itulah hal ini harus diawasi secara saksama. Bagaimana solusi utnuk mencegah hal-hal negatif seperti yang telah disebutkan di atas. Enurut saya, berpegang teguh pada ideologi Pancasila adalah solusinya. Sudah bertahun-tahun Pancasila menjadi ideologi utama dan nilai-nilainya selalu relevan dengan perkembangan zaman. Jangan sampai nilai-nilai Pancasila ini luntur, terutama pada generasi muda.

    Bisa kita lihat pada poin pertama bagaimana lunturnya etika dan moral masyarakat Indonesia. Sesuai dengan sila kedua Pancasila, “kemanusiaan yang adil dan beradab”, apabila dihayati secara benar dan diimplementasikan di kehidupan maka seharusnya tercipta sebuah media sosial yang kondusif dan positif. Bukan dihuni oleh kata-kata dan ujaran kebencian yang mengalir ke arah perpecahan dan menyinggung SARA. Jelas dikatakan, manusia yang beradab, artinya manusia yang mengerti akan etika dan kesopanan sosial terhadap sesama manusia. Bagaimana manusia saling berinteraksi dengan baik dan bermoral.

    Sebelum membahas solusi dari poin kedua, akan saya bahas terlebih dahulu untuk poin yang ketiga dan keempat. Poin ketiga, bagaimana kita sangat mudah terpecah dan terprovokasi. Memang bangsa Indonesia adalah bangsa yang penuh dengan keberagaman. Akan tetapi, bukan berarti keberagaman itu menjadi sebuahboomerang bagi kita. Justru sebaliknya keberagaman itu menjadi harta bagi masyarakat Indonesia. Mari kita pahami sila ketiga Pancasila, “persatuan Indonesia”. Jelas menjelaskan bahwa kita sebagai masyarakat Indonesia yang berideologikan Pancasila harus mengedepankan persatuan ketimbang perpecahan apalagi untuk masalah yang remeh. Harus bisa menempatkan diri untuk kepentingan bersama atau kepentingan golongan.

    Selanjutnya untuk poin keempat, masalah demokrasi yang disebabkan oleh media sosial. Mari kita memahami makna dari sila keempat Pancasila, “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijkasanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Inti dari sila tersebut adalah mengedepankan pemikiran Bersama demi mencapai mufakat. Bisa juga diartikan sebagai demokrasi yang adil. Kita tidak pernah tahu apakah kita akan mengalami hal yang serupa dengan Amerika atau tidak. Akan tetapi, apabila kita berpegang teguh pada sila keempat, saya yakin, ombak informasi yang menerpa akan dapat dilawan oleh pemikiran yang didasarkan sila keempat Pancasila.

    Terakhir, bagaimana cara kita untuk menghadapi ideologi-ideologi yang masuk melalui media sosial dari seluruh dunia seperti yang telah disebutkan pada poin kedua. Jawabannya sekali lagi adalah Kembali pada Pancasila. Pancasila harus benar-benar dimaknai sebagai ideologi, dasar, filsafat, dan sumber etika setiap masyarakat Indonesia. Pancasila dibuat orang-orang hebat. Bagaimana mereka Menyusun Pancasila tidak sembarangan dan disetujui oleh orang-orang hebat juga. 

    Dapat dipastikan juga Pancasila masih tetap relevan dengan perkembangan zaman. Sekarang, hanya bagaimana kita untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di Pancasila dengan baik dan benar. Dengan begitu, masyarakat Indonesia akan mendukung untuk Indonesia maju lebih jauh lagi dan bergerak semakin cepat. Jangan sampai algoritma yang mengalahkan kita. Kita lah yang mengendalikan teknologi, bukan teknologi yang menguasai kita  kita

    Sumber: https://www.kompasiana.com/farrasreswara8718/6059e3eb8ede4831af21abe2/melawan-teknologi-dengan-ideologi?page=all

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad