• Breaking News

    Pendidikan 4.0, antara Hi-Tech Ability dan Hi-Touch Ability

     

    Dunia bergerak begitu cepat sejak munculnya istilah era distrupsi dan industri 4.0. Dahulu kita menganggap bumi itu bulat dan besar, jika kita ingin menjelajahinya tidak akan cukup waktu beberapa tahun saja. Namun kini kita merasakan bahkan menyaksikan bahwa bumi yang kita anggap besar dan bulat itu hanya sebatas layar beberapan inci dan datar. 

    Apa yang terjadi di belahan Eropa, pada saat yang sama bisa kita ketahui tanpa harus mendatanginya yaitu hanya dengan memasukkan keyword pada digital search engine. Hal tersebut terjadi sejak peradaban manusia memasuki era dimana komputer, internet, artificial intelegence dan big data menjadi elemen penting dalam kehidupan. Itulah yang disebut dengan Era industri 4.0. Era tersebut dimulai sejak Revolusi industri, dimulai dari: 

    (1) Revolusi Industri 1.0 terjadi pada abad ke 18 melalui penemuan mesin uap, sehingga memungkinkan barang dapat diproduksi secara masal, 

    (2) Revolusi Industri 2.0 terjadi pada abad ke 19-20 melalui penggunaan listrik yang membuat biaya produksi menjadi murah, 

    (3) Revolusi Industri 3.0 terjadi pada sekitar tahun 1970an melalui penggunaan komputerisasi, dan 

    (4) Revolusi Industri 4.0 sendiri terjadi pada sekitar tahun 2010-an melalui rekayasa intelegensia dan internet of thing sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin (Prasetyo & Trisyanti, 2018).

    Tidak hanya dalam dunia industri dan ekonomi, fenomena distrupsi juga terjadi dalam dunia pendidikan. Era revolusi industri 4.0 telah mengubah cara pandang manusia tentang pendidikan. Pendidikan setidaknya harus mampu menyiapkan anak didiknya menghadapi tiga hal: a) menyiapkan anak untuk bisa bekerja yang pekerjaannya saat ini belum ada; b) menyiapkan anak untuk bisa menyelesaikan masalah yang masalahnya saat ini belum muncul, dan c) menyiapkan anak untuk bisa menggunakan teknologi yang sekarang teknologinya belum ditemukan. Sungguh sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi dunia pendidikan. Untuk bisa menghadapi tantangan tersebut,syarat penting yang harus dipenuhi adalah bagaimana menyiapkan kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas.

    Era pendidikan yang dipengaruhi oleh revolusi industri 4.0 disebut Pendidikan 4.0 yang bercirikan pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran dikenal dengan sistem siber (cyber system) dan mampu membuat proses pembelajaran berlangsung secara kontinu tanpa batas ruang dan waktu. Fenomena tersebut semakin cepat terjadi sejak dunia dilanda oleh pandemi Covid19. Awalnya para pakar menyebutkan bahwa proses adaptasi terhadap era 4.0 di bidang pendidikan baru akan terlihat 5 tahun mendatang, namun karna hadirnya virus corona proses tersebut mau tidak mau, suka tidak suka harus kita hadapi saat ini. Semua stakeholder di bidang pendidikan sudah harus beradaptasi dengannya, mulai dari Dinas Pendidikan, lembaga sekolah atau yayasan, para orangtua siswa, siswa dan tentunya para guru.

    _Tantangan sebagai guru_

    Era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan berat bagi guru Indonesia. Mengutip Jack Ma dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, pendidikan adalah tantangan besar abad ini. Jika tidak mengubah cara mendidik dan belajar-mengajar, 30 tahun mendatang kita akan mengalami kesulitan besar. Pendidikan dan pembelajaran yang sarat dengan muatan pengetahuan mengesampingkan muatan sikap dan keterampilan sebagaimana saat ini terimplementasi, akan menghasilkan peserta didik yang tidak mampu berkompetisi dengan mesin. Dominasi pengetahuan dalam pendidikan dan pembelajaran harus diubah agar kelak anak-anak muda Indonesia mampu mengungguli kecerdasan mesin sekaligus mampu bersikap bijak dalam menggunakan mesin untuk kemaslahatan. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam menghadapi dan beradaptasi di era pendidikan 4.0 setidaknya ada 5 kompetensi yang harus dimiliki oleh guru/pendidik antara lain;

    1. Educational competence, kompetensi mendidik/pembelajaran berbasis internet of thing sebagai basic skill di era ini;

    2. Competence for technological commercialization, punya kompetensi membawa siswa memiliki sikap entrepreneurship (kewirausahaan) dengan teknologi atas hasil karya inovasi siswa;

    3. Competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan problem nasional;

    4. Competence in future strategies, dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya, dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-resources, staff mobility dan rotasi, paham arah SDG's, dan lain sebagainya.

    5. Conselor competence, mengingat ke depan masalah anak bukan pada kesulitan memahami materi ajar, tapi lebih terkait masalah psikologis, stres akibat tekanan keadaan yang makin komplek dan berat.

    Selain kompetensi di atas secara umum ketrampilan Abad 21 yang dianggap juga bisa memperkuat modal social (social capital) dan modal intelektual (intellectual capital) di era 4.0 biasa disingkat dengan 4C: communication, collaboration, critical thinking and problem solving, dan creativity and innovation. Secara operasional, 4C ini dijabarkan dalam empat kategori langkah, yakni: Pertama, cara berpikir, termasuk berkreasi, berinovasi, bersikap kritis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan belajar pro-aktif. Kedua, cara bekerja, termasuk berkomunikasi, berkolaborasi, bekerja dalam tim. Ketiga, cara hidup sebagai warga global sekaligus local; dan keempat, alat untuk mengembangkan ketrampilan abad 21, yakni teknologi informasi, jaringan digital, dan literasi.

    Semua kompetensi dan ketrampilan yang disebutkan di atas sejatinya memang harus dimiliki oleh setiap guru di Indonesia, atau setidaknya diupayakan mulai saat ini. Mengingat prediksi berakhirnya pendemi Covid 19 masih harus menunggu satu atau dua tahun lagi. Dengan demikian bukan hal yang tidak mungkin bahwa di tahun ajaran mendatang pun proses pembelajaran masih dilakukan secara daring (online).

    Proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang ditetapkan oleh pemerintah sendiri belum maksimal. Di 3-4 bulan awal pandemi bahkan banyak orangtua siswa yang mengeluhkan pembelajaran secara daring. Hal tersebut diakibatkan oleh meningkatnya biaya pengeluaran kuota internet di rumah tangga, tidak meratanya infrastruktur jaringan internet di berbagai daerah serta tersitanya waktu orangtua untuk menemani anaknya belajar sehingga tidak bisa mencari nafkah. Belum lagi tidak meratanya kemampuan guru dalam hal TIK. Sehingga banyak guru yang hanya memberikan materi berupa gambar teks buku lalu memerintahkan siswa mengerjakan tugas melalui WhatsApp. Sehingga masuk akal juga ketika sebagian pengamat pendidikan berpendapat bahwa akibat pandemi ini Indonesia telah kehilangan satu generasi pendidikan.

    Belakang problem pendidikan online tidak hanya dalam hal penyampaian materi dan pemberian tugas saja. Karna tujuan utama pendidikan nasional bukan sekedar mencari nilai yang tinggi melainkan untuk menciptakan insan yang bertaqwa dan berakhlak mulia. Dulu pada saat pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka (offline) upaya penanaman nilai-nilai akhlak dan perilaku kepada siswa tidak terlalu sulit karna siswa bisa belajar dari keteladanan guru dan teman-temannya secara langsung. Namun sekat ruang dan jarak antara siswa dan guru membuat upaya penanaman nilai-nilai akhlak terbilang sulit. Oleh karenanya tak heran jika beberapa pesantren tradisional tetap kekeuh melaksanakan proses pendidikan secara tatap muka (offline).

    _2 Kemampuan Fundamental Guru_

    Mengingat ke depan pembelajaran akan tetap dilaksanakan secara online maka tantangan-tantangan tersebut harus dihadapi oleh semua stakeholder yang terlibat dalam proses pendidikan. Dalam sebuah kegiatan sharring session bersama penjamin mutu pendidikan sebuah sekolah, penulis mencatat ada 2 kemampuan fundamental yang harus dimiliki oleh seorang guru di masa PJJ saat ini. Kedua hal tersebut yaitu Hi-Tech Ability dan Hi-Touch Ability

    Yang dimaksud Hi-Tech Ability disini adalah kemampuan guru dalam beradaptasi serta berinovasi dengan teknologi pada saat ini. Khususnya dalam hal pemanfaatan teknologi berbasis komputer dan internet untuk mendukung proses pembelajaran. Sehingga dengan kemampuan tersebut para siswa dapat memahami pembelajaran meskipun dilaksanakan secara online serta tentunya terhindar dari kebosanan saat belajar di kelas virtual. Beberapa hal mendasar dari Hi-Tech Ability antara lain;

    Guru dapat menguasai flatform pertemuan online beserta fitur-fiturnya seperti Zoom meeting, Google meet, Skype, Hangout, dan lainnya.

    Guru dapat membuat kelas virtual menggunakan Google Classroom berikut menguasai fitur-fiturnya

    Guru dapat membuat materi pembelajaran baik berupa visual statis seperti Powerpoint, Pdf, word ataupun visual dinamis seperti video, slideshow, atau gif.

    Guru bisa membuat games-games pembelajaran yang menarik dan bisa diikuti oleh siswa secara langsung melalui flatform berbasis online seperti quizziz, worldwall, gform, dan lainnya

    Guru dapat memanfaatkan media sosial dalam proses belajar agar lebih interaktif, massif dan inovatif misalnya memanfaatkan Twitter dan Instagram dalam pengerjaan soal, YouTube dan juga Facebook.

    Guru juga diharapkan cakap dalam literasi digital sehingga memiliki sense of security yang dengannya ia mampu mawas diri dalam mempublish informasi-informasi yang dimiliki di dunia maya.

    Jenis-jenis Hi-Tech ability di atas hanyalah contoh dari apa yang menjadi pengalaman penulis sebagai seorang guru sekolah dasar. Tentunya pada tingkatan guru tertentu misalnya guru SMP, SMA atau bahkan dosen Hi-Tech ability yang harus dimiliki juga berbeda.

    Sementara itu problematika penanaman akhlak sebagaimana penulis ceritakan di atas mengharuskan guru tidak hanya memiliki Hi-Tech ability saja namun juga seorang guru harus memiliki Hi-Touch ability yang mumpuni. Lalu apa itu Hi-Touch ability?

    Hi-Touch Ability adalah kemampuan seorang guru dalam menanamkan nilai-nilai akhlak dan soft skill kepada peserta didik melalui pendekatan yang lebih instrinsik baik secara personal maupun kelompok. Pendekatan yang lebih mengedepankan sisi-sisi spiritual dan emosional meskipun dilakukan melalui pendidikan secara daring. Terus terang ini yang menjadi tantangan pendidikan online di Indonesia saat ini. Merebaknya hoax, cyber bullying, pornografi dan perjudian di dunia maya menjadi para siswa-siswi rentan untuk dirusak kepribadiannya. Betapa banyak masyarakat khususnya para pelajar yang terpaksa berurusan dengan polisi dikarenakan terjerat UU ITE.

    Hi-Touch ability atau dalam Bahasa agama disebut dengan Ta'liful Qulub adalah kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru dalam menyentuh sisi-sisi spiritual dan emosional siswa sehingga apapun materi pembelajaran yang diberikannya dengan mudah diterima oleh siswa tersebut. Sebagaimana sebuah ungkapan menyebutkan "apa yang keluar dari hati akan diterima oleh hati,". Seorang guru yang tulus mengajarkan ilmu pengetahuan kepada muridnya maka inner power yang memancar dari guru tersebut akan mampu menembus relung hati siswa. Dengan demikan hati siswa yang sudah cinta akan memerintahkan akal untuk dapat memahami dengan baik. Hati adalah raja dalam tubuh manusia sementara akal adalah panglimanya, apa yang dikatakan oleh raja maka sudah pasti akan diikuti oleh panglima.

    Kemampuan ini hanya akan dimiliki oleh seorang guru jika ia dekat dengan Sang Pemilik Hati semua manusia yaitu Allah Azza Wajalla. Seorang guru yang bangun tengah malam untuk shalat tahajjud serta mendoakan kebaikan untuk murid-muridnya akan memiliki kekuatan tersendiri dalam mengajar di pagi atau siang harinya. Berbeda dengan guru yang hanya mengandalkan kemampuan kognitif serta teknologi namun tanpa ruh dalam mengajar. Penulis teringat dengan kata-kata yang pernah dilontarkan oleh Kyai Maimun Zubair (Mbah Moen), " Seorang guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang, nanti nanti kamu akan marah-marah jika mendapati muridmu tidak pintar, ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik dengan baik. Masalah id jadi pintar atau tidak serahkan kepada Allah, didoakan saja terus menerus agar dia dapat hidayah." .

    Pada akhirnya semua upaya yang telah dilakukan sebagai guru harus diserahkan hasilnya kepada Allah yang maha kuasa. Dialah sang pemilik Big Data yang paling tahu segalanya, dia pula yang menguasai jaringan ruh seluruh manusia, dia pula yang mampu membolak-balikan processor (hati) manusia kepada yang Dia kehendaki. Tentunya ikhtiar kita sebagai pendidik di Era 4.0 ini kita maksimalkan dengan tidak hanya berfokus pada penguasaan Hi-Tech Ability saja namun juga Hi-Touch Ability. 

    Sumber: https://www.kompasiana.com/langkahbaru/6041ab028ede4864d17ee082/pendidikan-4-0-antara-hi-tech-ability-dan-hi-touch-ability

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad