• Breaking News

    Siapkah "Virtual Reality" Digunakan pada Proses Pembelajaran?

     

    Pandemi Covid-19 tidak selalu membawa hal-hal yang buruk, jika kita coba untuk tenang dan melihat serta mendengarkan fenomena yang terjadi di sekeliling kita, ternyata memang cukup banyak hal-hal yang membawa kebaikan-kebaikan dari kejadian ini atau yang sering disebut oleh kebanyakan orang sebagai hikmah dibalik suatu peristiwa. 

    Hal tersebut dapat kita temui pada lingkungan pendidikan, meskipun ranah ini cukup banyak terdampak selama pandemi covid-19 ini berlangsung, namun lompatan-lompatan teknologi yang terjadi selama pandemi ini sangat berpengaruh dalam kehidupan di masyarakat.

    Diantara lompatan teknologi tersebut adalah berkembangnya ruang-ruang virtual dalam proses pemebelajaran di dunia pendidikan yang dengan sangat mudah kita temukan beragam aplikasinya seperti zoom meeting, google meet, dll. 

    Namun dalam proses pembelajaran di ruang virtual memiliki keterbatasan terutama pembelajaran yang membutuhkan pengalaman secara langsung seperti praktikum, karena memang pengalaman dan tingkat pemahaman yang didapatkan sangat berbeda antara melihat melalui video dengan melakukannya secara langsung.

    Berdasarkan penelitian Kumape (2015) dalam Jurnal Kreatif Online, rata-rata manusia hanya mampu mengingat 20% informasi yang didengar, sedangkan 30% mengingat dari apa yang dilihat. Sedangkan, hampir 90% orang mampu mengingat informasi berdasarkan apa yang dialami, misalnya dengan praktik langsung. Sehingga memang agar proses pembelajaran terjadi dengan kualitas yang baik sangat dibutuhkan pengalaman langsung dalam proses pembelajaran tersebut.

    Perkembangan teknologi yang terus bergerak dengan sangat cepat saat ini mencoba untuk mewujudkan ekspektasi manusia dalam mengatasi permasalahan yang ada, mulai dari Revolusi Industri 4.0 hingga Society 5.0 yang mana membuat titik persoalannya bukan lagi seperti di 4.0 yang memperlihatkan hubungan antara manusia dan mesin seperti atasan dengan bawahan. 

    Namun lebih dari sekedar itu, yaitu sebagai partner yang dapat membantu dalam kehidupan. Tentunya untuk membuat mesin tersebut menjadi partner membutuhkan modifikasi dan penambahan fitur-fitur tertentu.

    Diantara teknologi yang hadir sebagai partner itu salah satunya adalah virtual reality yang dapat membantu proses pembelajaran terutama yang berbasis pada praktikum ataupun pelatihan di sekolah kejuruan.

    Sederhananya virtual reality merupakan teknologi yang dapat membuat segala hal skenario virtual menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata. Ketika sesuatu tersebut terlihat nyata, maka cara kerja otak kita akan sama hal nya seperti kita melakukan hal tersebut di dunia nyata. 

    Kinerja otak yang sebelumnya menjadi kendala karena proses pembelajaran jarak jauh yang berlangsung melalui layar laptop ataupun gawai memiliki pengaruh yang berbeda dengan pembelajaran secara langsung dapat teratasi terutama pada penginderaan dalam proses mengalami (jika mengacu pada konsep daur belajar) dapat ditransfer dengan baik. 

    Selain itu virtual reality juga dapat menjadi solusi dalam menurunkan anggaran pelaksanaan praktikum atupun fasilitas laboratorium di ranah pendidikan dan pelatihan yang seharusnya membutuhkan miliaran rupiah dapat lebih ditekan pembiayaanya.

    Maka pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah apakah VR ini memungkinkan untuk diterapkan terutama di Indonesia? 

    Jawabannya adalah sangat memungkinkan, apa lagi jika kita lihat tren nya harga VR ini beberapa tahun terakhir menjadi semakin lebih murah dikarenakan cukup banyak pihak yang terlibat dalam investasi pengembangan teknologi ini, sehingga ketika harga yang semakin murah kemudian berdampak pada tingkat pembelian oleh masyarakat yang setiap tahunnya terus meningkat seperti yang dapat kita lihat pada gambar berikut.

    Selama pandemi covid-19, inklusivitas semakin kecil dalam dunia pendidikan Indonesia dan negara-negara lainnya, dimana orang yang dapat mengenyam pendidikan hanyalah yang memiliki perangkat elektronik (gawai atau laptop) dan daerahnya yang terjangkau internet. 

    Orang-orang yang berdomisili di perkotaan sangat mudah untuk berkomunikasi dan melakukan proses pembelajaran. Sedangkan di daerah sub-urban bagaimana? Akses internet sangat lemot. Video pun harus dimatikan agar pembelajaran dapat berjalan dengan lancar walaupun hanya berbasis suara (yang tentunya cukup berdampak pada kualitas pembelajaran yang didapatkan). 

    Apa lagi di daerah 3T yang bahkan ada pemadan listrik rutin. Inilah alasan learning loss meningkat di Indonesia pada masa pandemi ini. Dan hal itulah yang menjadikan perbedaan pendidikan di kota dan desa menjadi sangat terasa berbeda.

    Maka yang melalui terobosan VR dalam penerapannya di Indonesia berdasarkan yang telah dilakukan oleh Millealab (merupakan salah satu platformer yang bergerak pada edukasi berbasis VR) VR ini dapat diterapkan hingga di daerah sub-urban yang memiliki kualitas rata-rata kecepatan internet 2 Mbps. 

    SWumber: https://www.kompasiana.com/udazaid/60448d87d541df4367403d02/fakta-penggunaan-virtual-reality-pada-proses-pembelajaran?page=2

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad