• Breaking News

    Teknologi IIoT Dorong Produktifitas Industri Manufaktur dan IKM, TIBCO Tawarkan Konsep Pabrik Digital

     

    Revolusi Industri Keempat (4IR) telah melahirkan banyak teknologi manufaktur yang inovatif. Namun, sebagian besar bisnis di sektor ini tertinggal dengan upaya modernisasi mereka. Hambatan seperti kendala anggaran, kurangnya sumber daya pengumpulan data yang memadai, tantangan integrasi dengan sistem lama, keamanan siber, dan kurangnya pemahaman tentang manfaat teknologi berbasis data menghambat perusahaan dalam mempercepat proyek transformasi digital.

    Kementerian Perindustrian Indonesia meyakini bahwa teknologi digital, seperti komputasi awan (cloud) dan Industrial Internet of Things (IIoT) sangat penting untuk mendorong produktifitas sektor manufaktur, termasuk industri kecil dan menengah (IKM).

    Menurut Nick Lim, General Manager TIBCO untuk Asia Pasifik dan Jepang (APJ), produsen saat ini menghadapi banyak tantangan seperti kompleksitas produk yang semakin meningkat, waktu siklus yang lebih pendek, dan peningkatan persaingan pasar global. Agar dapat bertahan dan kompetitif, perusahaan dalam sektor ini harus membawa upaya inovasi untuk mengukur dan memanfaatkan teknologi seperti analitik data, kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, dan digital twins untuk memberikan nilai lebih bagi pelanggan mereka.

    “Adopsi teknologi baru ini tidak hanya akan mengungkap peluang bisnis baru, tetapi juga membuka aliran pendapatan baru dan memungkinkan monetisasi aset data untuk keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Data pelanggan dapat menjelaskan cara memahami pasar, memprediksi dan menyesuaikan dengan preferensi pelanggan, memperkirakan permintaan, mengoptimalkan inventaris, dan memantau persediaan,” tuturnya saat diwawancara Industry.co.id pada Senin (29/3).

    Dalam industri manufaktur, penerapan teknologi IIoT dapat membantu mengoptimalkan produksi, memantau inventaris bahan, menganalisis pola pengadaan, serta mendorong manajemen yang efisien. IIoT menghemat uang dengan menggunakan analitik, pembelajaran mesin, dan kontrol proses statistik multivariasi (SPC) untuk menganalisis data mesin dalam jumlah besar dari berbagai sumber yang berbeda.

    “Saat sektor manufaktur negara memanfaatkan kekuatan transformatif teknologi digital, mereka dapat membentuk ekosistem yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Ekosistem TIBCO memberikan kecerdasan manufaktur yang mendigitalkan bisnis, mengoptimalkan biaya, mempercepat inovasi dengan kesadaran kontekstual secara real time.”

    Nick mengatakan bahwa untuk menciptakan ekosistem cerdas yang memungkinkan organisasi menjadi sadar dan prediktif secara situasional dibutuhkan sebuah pabrik digital (digital factory) yang menggabungkan sistem fisik berinstrumen dan Industrial Internet-of-Things (IIoT) yang memungkinkan pabrik beralih dari reaktif ke proaktif dalam pengelolaan produk, proses, mesin dan rantai pasokan.

    “Pabrik pintar adalah ekosistem terhubung tempat orang, sensor, perangkat, dan peralatan bertukar dan menangkap informasi secara waktu nyata di semua tahap proses produksi. Semua data yang relevan dihubungkan, digabungkan, dianalisis, dan ditindaklanjuti secara proaktif. Kecerdasan manufaktur ini bisa  mengoptimalkan proses dan biaya, meningkatkan kualitas, mempercepat inovasi, dan mendefinisikan ulang pengalaman pelanggan.”

    Saat disinggung mengenai kapan IIoT bisa diterapkan secara total di Indonesia, ia menegaskan bahwa banyak perusahaan di Indonesia mulai menyadari perlunya berinvestasi dalam solusi pemeliharaan prediktif, yaitu pemeliharaan prediktif yang menggunakan sensor untuk melacak kondisi peralatan dan menganalisis data secara teratur, memungkinkan perusahaan untuk memperbaiki peralatan dan mesin saat mereka benar-benar membutuhkannya. Mesin bahkan dapat disetel agar dapat mengevaluasi kondisinya sendiri, "memesan" suku cadang, dan menjadwalkan teknisi lapangan jika diperlukan.

    “Misalnya, industri kilang minyak di Indonesia sedang mengalami perubahan besar-besaran. Sebagai salah satu produsen minyak utama Asia, memanfaatkan teknologi ini akan membantu dalam eksplorasi, ekstraksi, dan produksi. Dengan menggunakan teknologi IIoT, beberapa proses dan aktivitas sekarang dapat dikontrol dan dipantau di luar lokasi menggunakan komputer berkinerja tinggi dan algoritme tingkat lanjut.”

    Nick juga mencontohkan Goya Foods, perusahaan makanan terbesar milik Hispanik di AS, yang menggunakan solusi TIBCO Connected Intelligence untuk mengoptimalkan rantai pasokannya. Perusahaan tersebut berhasil meminimalkan biaya produksi dan distribusi dan memaksimalkan pendapatan mereka.

    “Dengan meningkatkan efisiensinya dengan gudang yang efisien serta meningkatkan produksi dengan fasilitas produksi baru yang diaktifkan secara digital, bisnis ini dapat dengan cepat beradaptasi dengan perubahan pasar yang tiba-tiba tanpa memengaruhi pasokan makanan,” tutupnya.

    Berdasarkan data Asosiasi Internet of Things Indonesia, 18 persen perangkat IoT di Indonesia atau 22 juta perangkat akan berasal dari industri manufaktur pada tahun 2022, dan akan tumbuh menjadi 400 juta perangkat (senilai Rp 56 triliun) dalam 3 tahun ke depan.

    Sumber: https://www.industry.co.id/read/83104/teknologi-iiot-dorong-produktifitas-industri-manufaktur-dan-ikm-tibco-tawarkan-konsep-pabrik-digital

    http://www.biskom.web.id/2021/03/30/solusi-ict-apakah-yang-diperlukan-untuk-menjawab-tantangan-saat-ini.bwi

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad