• Breaking News

    Alat UGM Diklaim Bisa Deteksi Gempa Sulsel 3 Hari Sebelumnya


    Jakarta, CNN Indonesia -- Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) gempa bumi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, diklaim sukses mendeteksi gempa di Tolitoli, Sulawesi Tengah.

    "Alat deteksi gempa yang dikembangkan oleh tim berhasil mendeteksi gempa di Tolitoli tiga hari sebelum kejadian," menurut Ketua Tim Peneliti Sistem Peringatan Dini Gempa UGM Sunarno, dikutip dari situs resmi UGM, Rabu (2/6).

    Berdasarkan informasi dari BMKG, pada Sabtu (29/5) pukul 08.25.14 WIB, gempa dengan Magnitudo (M) 5,3 mengguncang Toli-toli. Pusat gempa berlokasi di laut pada jarak 87 km arah Barat Kota Tolitoli pada kedalaman 27 km.

    Meski berhasil memprediksi gempa, Sunarno menyebut alat ini masih terus dikembangkan. Di DIY sendiri, lanjutnya, alat ini sudah mampu memprediksi gempa 3-7 hari sebelum kejadian.

    "Pengalaman selama ini kami baru dapat memprediksi 3 hari sebelum gempa dengan lokasi antara Aceh hingga NTT," aku dia, yang merupakan Guru Besar Teknik Fisika UGM ini.

    "Algoritma awal kami hanya mendeteksi dini 3-7 hari sebelum gempa khusus untuk DIY. Mengingat stasiun pemantau kami hanya ada di DIY," lanjutnya.

    Sunarno menyebut alat EWS ini memiliki teknologi trianggulasi yang dapat memprediksi posisi pusat gempa dengan lebih presisi. Selama dalam proses riset dan pengembangan pun, alat ini disebutnya sudah mampu memprediksi gempa dengan tepat.

    "Selalu cocok, sudah dipakai tesis mahasiswa saya. Bahkan, lewat internet kita bisa bantu memberi peringatan 3 sebelum kejadian gempa di antara Aceh hingga NTT," ungkap dia.

    Sistem yang dikembangkan terdiri dari alat EWS yang tersusun dari sejumlah komponen seperti detektor perubahan level air tanah dan gas Radon, pengkondisi sinyal, pengontrol, penyimpan data, sumber daya listrik, serta memanfaatkan teknologi internet of thing (IoT) di dalamnya.

    Cara kerjanya, kata dia, berdasarkan perbedaan konsentrasi gas Radon dan level air tanah yang merupakan anomali alam sebelum terjadinya gempa bumi.

    "Apabila akan terjadi gempa di lempengan, akan muncul fenomena paparan gas Radon alam dari tanah meningkat secara signifikan. Demikian juga permukaan air tanah naik turun secara signifikan," paparnya.

    Penelitian yang sudah dilakukan sejak 2018 ini memang dikhususkan mengamati konsentrasi gas Radon dan level air tanah sebelum terjadinya gempa bumi.

    Pengamatan yang telah dilakukan kemudian dikembangkan sehingga dirumuskan dalam suatu algoritma prediksi sistem peringatan dini gempa bumi.

    Sistem ini, menurut pernyataan tersebut, terbukti mampu memprediksi gempa bumi M 5,2 yang terjadi di Barat Bengkulu pada 28 Agustus 2020, gempa M 5,3 di Barat Daya Sumur-Banten pada 26 Agustus 2020.

    Selain itu, gempa M 5,1 di Barat Daya Bengkulu 29 Agustus 2020, gempa M 5,0 Barat Daya Sinabang Aceh pada 1 September 2020, gempa M5,1 di Barat Daya Pacitan 10 September 2020, dan gempa M 5,4 di Tenggara Nagan Raya-Aceh pada 14 September 2020.

    Sebelumnya, Kepala bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menyebut sampai saat ini belum ada satu pun teknologi yang mampu memprediksi gempa secara akurat.

    "Hingga saat ini belum ada satu satu pun teknologi yang mampu memprediksi gempa dengan tepat, dan akurat kapan, di mana, dan berapa besar kekuatan gempa akan terjadi," ujar dia, lewat akun Twitter pribadinya, Kamis (27/5).

    Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210603155525-20-650034/alat-ugm-diklaim-bisa-deteksi-gempa-sulsel-3-hari-sebelumnya

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad