• Breaking News

    PIKA, Wadah Pengembangan Startup Kecerdasan Artifisial Asli Indonesia

     

    MATA INDONESIA, JAKARTA – Tidak dipungkiri pengembangan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) saat ini begitu pesat. Hampir di seluruh sektor kehidupan, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, sampai ke sektor ekonomi sudah menerapkan teknologi AI.

    Bahkan belakangan ini, semakin banyak startup Indonesia menyediakan layanan yang didukung oleh teknologi AI ini. Namun tak jarang masih ada yang menganggap bahwa kehadiran AI menciptakan persoalan dan ancaman baru di bidang teknologi digital.

    Hal tersebut terjadi lantaran masih ada sejumlah pihak yang memandang skeptis (tidak pasti) terhadap adopsi AI di Indonesia. Menjawab itu semua, Sekretariat Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial (PIKA) BPPT, Dr Dini Fronitasari ST MT angkat bicara.

    Sebenarnya banyak sekali yang tidak sadar AI itu dekat sekali dengan kehidupan kita sekarang. Teknologi kecerdasan artificial saat ini sudah banyak diterapkan di berbagai bidang kehidupan.

    “Bahkan AI bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti asisten virtual Google dan Siri contohnya. Kecerdasan buatan memang bukan hal yang baru, namun perkembangannya selalu menjadi sesuatu yang menarik perhatian,” kata Dini kepada Mata Indonesia News, di Jakarta, Jumat 4 Juni 2021.

    Dini menambahkan, AI tidak selalu berupa asisten virtual seperti Jarvis pada film Iron Man atau bentuk robot lainnya. Namun lebih luas dari itu, AI bisa diterapkan dalam berbagai hal dengan menekankan pada kecerdasan mesin yang bisa memberikan respon layaknya manusia.

    “Jadi Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) adalah simulasi dari kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yang dimodelkan di dalam mesin dan diprogram agar bisa berpikir seperti halnya manusia. Secara sederhana/substansi utamanya AI adalah bagaimana mesin mampu memiliki kemampuan kognitif,” ujarnya.

    Saat ditanya contoh sederhana kehadiran AI di tengah masyarakat pada era digital saat ini apa saja, Dini menjawab, “Sangat banyak, paling terasa dan sederhana untuk menjadi reference mungkin di area Content Personalization, contoh di Netflix, Youtube, Tokopedia dan yang lainnya. Berbeda user akan memiliki tampilan / rekomendasi item yang berbeda (personalized). Hal tersebut tentunya tidak di konfigurasi satu persatu melainkan menggunakan assistance dari AI.”

    Diketahui bersama, pemanfaatan AI sejalan dengan arahan Presiden RI Joko Widodo. Yakni untuk menggunakan Kecerdasan Artifisial dalam pelayanan publik pemerintahan, hingga penegakan ketertiban dan keamanan oleh unsur Kepolisian dan Militer. PIKA, kata Dini, sangat setuju dan mendukung arahan Presiden tersebut.

    Dini pun menyebut jika penerapan AI memang memiliki harapan untuk peningkatan kualitas dari pelayanan negara. Tentunya yang harus diperhatikan adalah bagaimana koridor etika tetap dijadikan panduan dalam penerapannya. Sehingga Masyarakat pengguna yang akan memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial harus sesuai dengan nilai-nilai etika yang ditetapkan,” katanya lagi.

    Pemerintah pun saat ini sudah menyiapkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial di Indonesia. Dalam hal ini, lanjutnya, PIKA BPPT sebagai lead dalam mengarahkan dan melibatkan beberapa komponen Quad Helix yakni Pemerintah, Industri, Akademis dan Asosiasi untuk dapat turut serta terlibat dalam penyusunan STRANAS AI.

    “Sesuai Tupoksi BPPT. BPPT adalah lembaga kaji dan terap teknologi, BPPT juga adalah lembaga yang membuat rekomendasi kebijakan yang berkaitan dengan kaji dan terap teknologi, khususnya kecerdasan artifisial.”

    Diakuinya, BPPT sedang membangun platform dan infrastruktur jejaring sumber daya komputasi berbagi pakai yang dapat disediakan oleh dan untuk Quad-helix dalam rangka keperluan eksperimentasi pemodelan kecerdasan artifisial untuk kepentingan riset dan pengembangan talenta kecerdasan artifisial.

    Selain itu juga BPPT melakukan feasibility study pembangunan Indonesia AI Super Computer Center yang memiliki platform berbagi pakai dan menginisiasi pembangunannya pada tahun ini dalam skala tertentu.

    Spesifikasi pusat ini mengikuti arahan yang dideskripsikan dalam Strategi Nasional KA area fokus Infrastruktur dan Data, seperti ketentuan adanya presidium pemilik pusat data, pemetaan dan standardisasi interkoneksi, konsep rendertoken, dan standar integrasi komputasi awan (cloud).

    “Juga mengembangkan model bisnis dan sistem pengelolaan repositori dataset latih kecerdasan artifisial yang dapat membangun ekosistem dataset Quad-helix, yang pemanfaatannya dapat berkelanjutan, dan demand-driven,” ujarnya.

    Saat ini bermunculan ekosistem perusahaan rintisan/startup sektor AI Tanah Air. Dini menyebut kendala paling signifikan yang dihadapi adalah ketersediaan talenta. Di tengah pastinya tantangan lain seperti permodalan di mana pembiayaan untuk start up di Indonesia masih didominasi oleh pembiayaan pribadi, dukungan pemerintah terhadap perusahaan berbasis R&D, adopsi publik yang mendukung kemandirian Indonesia dan lainnya.

    “Tentu saja dalam hal ini PIKA berusaha untuk terus mendorong agar ekosistem start up bisa terus maju. Salah satunya merencanakan dan merancang sistem pengembangan kuantitas dan kualitas talenta Indonesia di bidang kecerdasan artifisial. Selain itu BPPT melaksanakan program-program pengembangan talenta kecerdasan artifisial bersama-sama dengan kekuatan Quad-helix, seperti: pelatihan, magang/kerja praktek, bootcamp, summer school, beasiswa, dan bentuk lainnya,” jelasnya.

    Dengan adanya PIKA yang diinisiai BPPT ini diharapkan bisa menjadi wadah dalam mengakselerasi pemanfaatan kecerdasan artifisial di Indonesia, serta memberikan manfaatnya bagi masyarakat luas dan mendukung pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan bangsa.

    Sumber: https://www.minews.id/news/pika-wadah-pengembangan-startup-kecerdasan-artifisial-asli-indonesia

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad