• Breaking News

    5 Hal Hebat yang Bisa Dilakukan 5G Telkomsel untuk Dukung IoT

     

    Kemunculan 5G membawa harapan baru bagi perkembangan industri di Indonesia. Dengan teknologi internet mobile generasi kelima ini, industri dapat memangkas biaya operasional mereka dan meningkatkan produksi melalui Internet of Things (IoT).

    5G memiliki keunggulan hampir di semua aspek. Dalam hal kecepatan misalnya, jaringan 5G bisa 100 kali lebih cepat ketimbang 4G LTE yang rata-rata berada di kisaran 100 Mbps.

    Jaringan 5G juga dapat menghubungkan 1 juta perangkat dalam radius 1 km persegi, 100 kali lebih banyak ketimbang 4G. Selain itu, keistimewaan 5G terletak pada latensinya yang rendah dan hampir real time, 1 milidetik saja, jauh lebih baik ketimbang 4G LTE yang rata-rata memiliki jeda di atas 10 milidetik.

    Kapabilitas dan manfaat yang dibawa 5G tersebut pada akhirnya bakal mendorong pertumbuhan industri Tanah Air, menurut riset terbaru dari Telkomsel pada Mei 2021. Operator seluler terbesar di Indonesia itu memperkirakan, 5G akan memicu pertumbuhan Compound Annual Growth Rate (CAGR) berbagai industri di Indonesia hingga 86 persen dalam 7 tahun ke depan.

    Optimisme serupa juga disampaikan McKinsey pada 2016 lalu yang mengatakan bahwa transformasi digital industri Indonesia akan membawa dampak total produksi hingga 120 miliar dolar AS pada 2025. Meski demikian, potensi besar yang dibawa 5G tergantung pada kehendak industri itu sendiri untuk memanfaatkannya, menurut VP Internet of Things Telkomsel, Alfian Manullang.

    “Kalau ada satu industri yang tidak mentransformasikan diri, artinya, dia boleh jalan terus, tapi membuat dia semakin tidak kompetitif. Artinya, seiring waktu dia akan tergilas dan tidak semakin efisien. Cost-nya semakin tinggi. Harga jual semakin tertekan. Dan ini merupakan salah satu isu,” kata Alfian.
    Alfian menjelaskan lebih dalam soal use case 5G untuk industri kepada kumparanTECH. Berikut detailnya:

    Manufaktur
    Manfaat 5G bagi industri manufaktur adalah peningkatan kemampuan perusahaan untuk memantau kinerjanya berbasis data. Salah satu contohnya bisa dilihat dari pemanfaatan programmable logic controller (PLC) untuk memantau potensi kerusakan mesin.

    Alfian menjelaskan, PLC memungkinkan perusahaan untuk lebih efisien dalam mengeluarkan biaya servis mesin. Dengan software PLC yang didukung 5G, mesin bakal mengirimkan gejala kerusakannya secara otomatis, sehingga perusahaan tidak perlu melakukan perbaikan yang tidak perlu.

    “Yang tadinya harus servis 3 bulan sekali, ternyata enggak harus,” kata Alfian. “Dari beberapa (perusahaan) yang sudah implementasi, spare part cost menurun.”

    Pada gilirannya, efisiensi perbaikan ini dapat mengurangi down time produksi dan berujung pada,meningkatkan produktivitas perusahaan.

    “Agar ini bisa diproses, ini butuh latensi konektivitas yang minim,” jelas Alfian. “Karena mereka mainnya di milidetik, itu enggak bisa dengan 4G yang jalan di 30 milidetik.”
    Tambang

    Selain manufaktur, manfaat 5G juga dapat dirasakan oleh perusahaan tambang. Alfian bilang, latensi rendah di 5G memungkinkan penggunaan “ekskavator atau kendaraan berat secara remote, supaya operasi yang bahaya seperti nikel, ataupun eksplosif itu,
    bisa lebih terjamin.”

    Salah satu contoh penggunaan mesin otomatis ini bisa dilihat dari laporan Ericsson pada 2018 lalu. Dalam riset tersebut, mereka membahas pemanfaatan mesin otomatis perusahaan tambang Boliden di pertambangan Aitik, Swedia. Pertambangan itu memiliki masalah pembuangan limbah dan risiko gas beracun hasil ledakan, yang menghambat produksi karena pekerja tak mungkin langsung melakukan penggalian.


    Setelah memakai truk otomatis, emisi pertambangan Aitik berkurang sebesar 9.400 metrik ton karbon dioksida. Operasi pengeboran Boliden juga meningkat hingga 2.000 jam atau 40 persen melalui otomatisasi.

    “Sistem komunikasi seluler 4G akan menawarkan solusi yang aman, fleksibel, dan tahan masa depan untuk Boliden. Meskipun 4G dapat mendukung kasus penggunaan yang teridentifikasi saat ini, hanya 5G yang dapat dengan nyaman menangani persyaratan yang paling menuntut – bandwidth, kualitas layanan, latensi, dan pemosisian,” kata Ericsson dalam laporannya.

    “Kasus penggunaan tambang Boliden Aitik mengurangi biaya sebesar 1 poin persentase melalui penerapan otomatisasi, dengan komunikasi sebagai pengaktif utama. Melakukan pengeboran dan peledakan menggunakan otomatisasi menunjukkan penghematan bersih tahunan sebesar 2,5 juta euro untuk tambang Aitik saja.”

    Kesehatan
    5G juga berdampak besar bagi sistem kesehatan di Indonesia. Jaringan tersebut diproyeksi bakal memunculkan telemedicine, di mana dokter dapat melayani pasiennya secara fisik meski jarak keduanya jauh.

    “Di kesehatan ini yang berkembang adalah remote surgery. Sehingga bagaimana spesialis-spesialis yang mungkin lebih banyak ada di perkotaan bisa membantu mereka yang ada di pedesaan,” kata Alfian.


    Pada 2019 lalu, use case ini berhasil didemonstrasikan oleh University Hospitals Birmingham (UHB). Demonstrasi ini dilakukan oleh Tom Clutton-Block, direktur klinis UHB, bersama Callum Stone, seorang paramedis ambulans. Keduanya berpura-pura sedang melakukan operasi bagi seorang pasien di ambulans, meski jarak antara Tom dan Callum terpisah beberapa kilometer.

    Melalui sarung tangan robot, gerakan Callum dapat dipandu oleh Tom melalui getaran yang dipicu oleh joystick. Baik sang dokter dan si paramedis perlu mengenakan headset VR, sehingga video langsung dan gambar close-up dari dalam ambulans dapat dilihat oleh dokter. Kemampuan tersebut hanya dimungkinkan jika jaringan internet yang dipakai punya jeda yang rendah seperti 5G.

    Otomotif
    Potensi 5G bagi mobil autonom jadi salah satu use case yang hype di industri otomotif. Alfian setuju dengan hal tersebut.

    “Di otomotif tentu autonomous car. Seperti di Asian Games 2018 di Jakarta, teman-teman pernah coba, bisa kejadian,” kata dia.

    Telkomsel sendiri pada Asian Games 2018 sempat memamerkan mobil otonom bernama Navya Autonom Shuttle. Mobil tersebut, yang dipamerkan dalam uji coba 5G saat Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta, dapat berjalan tanpa sopir karena dilengkapi sistem komputer yang dapat mendeteksi halangan dan rute ke mana dia pergi. Kemampuan ini dimungkinkan karena 5G punya latensi yang rendah.

    Menurut catatan dari Nokia pada 2016, sensor yang ada di mobil otonom dapat mereduksi tingkat kematian akibat kecelakaan kendaraan. Di Eropa, misalnya, tingkat kematian akibat kecelakaan jalan turun 18 persen antara 2010 hingga 2014 berkat kebijakan baru dan sensor kendaraan yang lebih aman.

    Media dan hiburan
    Jaringan 5G juga dapat dimanfaatkan oleh industri media dan hiburan untuk memperkaya konten mereka. Dengan latensi rendah dan kecepatan internet yang tinggi, mereka bisa menghadirkan konten melalui berbagai medium, mulai dari VR hingga AR.

    “Di industri entertainment, bagaimana lebih real-time, bagaimana 360 degree (live stream), itu juga salah satu yang bisa dilakukan,” kata Alfian.

    Salah satu contoh pemanfaatan 5G untuk industri hiburan dapat dilihat dari cloud gaming. Melalui teknologi ini, operasi game bakal dijalankan oleh server penyedia layanan, sehingga pengguna enggak perlu lagi repot-repot beli perangkat dengan spesifikasi tinggi (yang berarti juga harganya mahal) untuk memainkan game yang berat. Cukup dengan berlangganan kepada penyedia layanan cloud gaming, konsumen bisa main game apa pun.

    Sumber: https://kumparan.com/kumparantech/5-hal-hebat-yang-bisa-dilakukan-5g-telkomsel-untuk-dukung-iot-1w3XKQz2yLP/full

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad