• Breaking News

    Apa itu Industri 4.0 dan Kaitannya dengan Jaringan Telkomsel 5G?

     

    Kehadiran 5G membawa harapan baru pada sektor industri 4.0. Jaringan internet mobile generasi kelima ini akan membawa pengalaman baru hubungan antara manusia, manusia ke mesin, serta mesin ke mesin, dengan cara yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

    Di Indonesia, jaringan 5G pertama kali dihadirkan oleh operator seluler Telkomsel pada Mei 2021. Sejak saat itu, jaringan Telkomsel 5G semakin berkembang dan kini tersedia di 9 kota di Indonesia.

    Jaringan 5G membawa peningkatan signifikan dibanding generasi sebelumnya. Jika dibandingkan dengan 4G LTE, jaringan 5G bisa punya kecepatan 100 kali lipat dengan latensi hampir real-time hingga 1 milidetik. Dengan kemampuannya tersebut, Telkomsel berharap bahwa jaringan 5G mereka dapat mengakselerasi industri 4.0 di Indonesia.
    I
    stilah revolusi industri keempat pertama kali digunakan oleh para ilmuwan Jerman yang mengembangkan komputerisasi di industri pada 2011 lalu. Adapun popularitas istilah industri 4.0 baru muncul usai Klaus Schwab, pendiri dan ketua eksekutif World Economic Forum, menulis sebuah artikel berjudul The Fourth Industrial Revolution di majalah Foreign Affairs pada 2015.

    Dalam artikel itu, Schwab menggunakan konsep revolusi industri keempat untuk menggambarkan bagaimana kombinasi teknologi mengubah cara manusia hidup, bekerja, dan berinteraksi. “Hal ini ditandai dengan perpaduan teknologi yang mengaburkan batas antara bidang fisik, digital, dan biologis,” kata Schwab saat
    mengilustrasikan revolusi industri keempat atau industri 4.0.

    Sejarah singkat revolusi industri

    Di sekolah, kita mempelajari fenomena revolusi industri yang terjadi di Inggris pada abad ke-18. Namun, mungkin kamu sekarang bertanya-tanya: bukankah revolusi industri itu terjadi hanya sekali? Apa maksudnya dengan revolusi industri keempat? Di mana poin tiga yang lainnya?

    Menurut Schwab, umat manusia sebenarnya telah melalui tiga periode revolusi industri yang berbeda sepanjang sejarah. Revolusi industri sendiri, menurut dia, merupakan kemunculan “teknologi baru dan cara baru dalam memahami dunia (yang) memicu perubahan besar dalam struktur ekonomi dan sosial.”

    1. Revolusi industri pertama
    Revolusi industri pertama, yang mungkin paling dikenal saat belajar di sekolah, terjadi di Inggris pada akhir abad ke-18. Berkat revolusi ini, orang-orang Inggris yang awalnya mengandalkan sektor pertanian menemukan mode produksi baru di pabrik.

    Seperti kata Schwab, revolusi industri erat kaitannya dengan teknologi baru yang mengubah cara hidup. Dalam kasus revolusi industri pertama, inovasi tersebut adalah mesin uap. Sejak 1712, mesin uap pertama telah diciptakan di Inggris berkat Thomas Newcomen. Mesin uap generasi awal sukses secara komersial untuk memompa air keluar dari tambang. Mesin uap mendapat peran pentingnya menciptakan revolusi industri setelah James Watt membuat mesin uap yang jauh lebih efisien di tahun 1760-an dan 1770-an.

    Keberadaan mesin uap yang hemat bahan bakar di akhir abad ke-18 dapat menggantikan air dan tenaga kuda di berbagai industri yang ada di Inggris saat itu. Pabrik dapat dibangun di mana saja dan lebih efisien lewat mekanisasi.


    Perubahan mode produksi ini mengubah cara hidup orang Inggris masa itu. Sebelumnya, orang Inggris berpikir bahwa mereka tak bisa hidup tanpa bertani di kampung. Semenjak pabrik lebih efisien dan menjadi pusat produksi, masyarakat berbondong-bondong melakukan urbanisasi.

    Mesin uap juga memungkinkan orang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain lebih cepat dengan kapal uap dan kereta api. Gagasan revolusi industri kemudian menyebar ke Eropa dan Amerika Utara pada awal abad ke-19.

    2. Revolusi industri kedua
    Ketika kita bicara teknologi, sebenarnya kita bicara tentang sains yang diterapkan. Teknologi dari penerapan sains inilah yang menjadi pendorong utama revolusi industri kedua pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Sejumlah inovasi besar termasuk kelistrikan dan mesin berbahan bakar bensin ditemukan, memungkinkan efisiensi jalur perakitan dan produksi barang secara massal.

    Di era ini pula, teknologi tungku pembakaran besi berkembang pesat, yang membuat proses produksi baja menjadi lebih efisien. Dengan efisiensi produksi baja, harga jual material tersebut menjadi semakin murah. Hal ini memungkinkan pembangunan jembatan, rel kereta api, gedung pencakar langit, dan kapal semakin masif.

    Pada akhirnya, kereta api menjadi infrastruktur transportasi dominan di dunia, menghasilkan penurunan biaya pengiriman barang. Perkembangan kereta api di zaman ini juga memungkinkan orang makin mudah melakukan urbanisasi. Dan di tengah meningkatnya urbanisasi, penemuan seperti lampu listrik, radio, dan telepon mengubah cara orang hidup dan berkomunikasi.

    3. Revolusi industri ketiga
    Usai perang dunia, perkembangan komputer, semikonduktor, dan internet menjadi pendorong revolusi industri ketiga.

    Dampak revolusi ini, yang juga dikenal sebagai revolusi digital, sebenarnya sangat dekat dengan keseharian kita. Revolusi ini mengubah apa pun yang analog menjadi digital, mulai dari komputer, ponsel, TV, dan lain sebagainya. Perkembangan teknologi digital dan kemunculan internet juga membawa manusia ke era baru yang disebut era informasi. Orang dapat mengakses informasi secara cepat dan instan.


    Perkembangan signifikan lain dalam revolusi industri ketiga adalah superkomputer, artificial intelligence/AI, hingga 3D printing. Dengan penggunaan teknologi otomatis dalam proses produksi, kebutuhan tenaga manusia untuk menjalankan mesin semakin berkurang.

    Revolusi industri ketiga juga ditandai dengan persebaran teknologi yang masif. Sebagai contoh, seperti dilaporkan CNBC, butuh 75 tahun bagi 100 juta orang untuk mendapatkan akses telepon di awal kemunculannya. Di sisi lain, Instagram cuma butuh dua tahun untuk mencapai jumlah pengguna tersebut, sedangkan game Pokemon Go bahkan dapat menggaet 100 juta pengguna dalam waktu kurang dari satu bulan di tahun 2016.

    4. Revolusi industri keempat
    Setelah melihat tiga revolusi industri sebelumnya, kita kini berhadapan dengan revolusi industri keempat. Lantas, apa yang bakal kita temui di revolusi industri keempat? Tak ada jawaban yang pasti untuk hal tersebut. Kita hanya bisa “meraba-raba” kemungkinan itu sembari menjalankannya.

    Seperti dikatakan Schwab, revolusi industri keempat memadukan teknologi fisik, digital, dan biologis, hingga batas masing-masing tak dapat ditentukan lagi.
    Contohnya, perkembangan mesin cetak 3D memungkinkan pembuatan bagian tubuh artifisial bagi penyandang disabilitas, dan di saat yang bersamaan, kita dapat mengendarai mobil tanpa sopir karena mereka memiliki kecerdasan buatan.

    “Kecepatan terobosan saat ini tidak memiliki preseden sejarah. Jika dibandingkan dengan revolusi industri sebelumnya, Revolusi Keempat berkembang secara eksponensial daripada kecepatan linier,” kata Schwab.


    Dalam artikelnya, Schwab menjelaskan beberapa kendala dan manfaat yang mungkin bakal kita hadapi di era revolusi industri keempat.

    Bagi pemerintahan misalnya, teknologi dan platform baru akan semakin memungkinkan warga untuk terlibat dengan pemerintah, menyuarakan pendapat mereka, dan bahkan menghindari pengawasan otoritas publik. Di sisi lain, pemerintah juga dapat mengandalkan teknologi surveillance dan senjata otonom untuk menjaga keamanan wilayah mereka.

    Adapun di dunia bisnis, industri 4.0 akan berdampak besar bagi efisiensi perusahaan berkat Internet of Things (IoT) dan Cyber Physical Systems. Sejumlah studi menunjukkan efisiensi dari teknologi akan menghilangkan beberapa pekerjaan, sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan dan keterampilan baru.

    Jaringan Telkomsel 5G: enabler industri 4.0 di Indonesia
    Dari sejarah singkat di atas, revolusi industri selalu menghasilkan peningkatan efisiensi berkat kemunculan inovasi teknologi baru. Salah satu teknologi yang berperan penting bagi industri 4.0 adalah jaringan 5G.

    VP Internet of Things Telkomsel, Alfian Manullang mengatakan, industri 4.0 terdiri dari berbagai teknologi yang membutuhkan latensi internet rendah. Hal inilah yang membuat jaringan 5G, dengan latensi cuma 1 milidetik, berperan penting dalam revolusi industri keempat.

    “Kami menjadi enabler. Ada beberapa teknologi yang seperti mobile apps computing, network slicing, enhanced mobile broadband, massive IoT—itu adalah salah satu yang akan di-enable. Jadi dengan 5G ini akan membuka banyak peluang-peluang baru yang enggak pernah ada sekarang ini, seperti autonomous as a service,” kata Alfian.


    Menurut riset terbaru dari Telkomsel pada Mei 2021, 5G akan memicu pertumbuhan Compound Annual Growth Rate (CAGR) berbagai industri di Indonesia hingga 86 persen dalam 7 tahun ke depan.

    Senada dengan riset Telkomsel, studi bertajuk "Unlocking 5G Benefits for the Digital Economy Indonesia” dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkirakan kehadiran jaringan 5G akan memberikan kontribusi PDB (Pendapatan Domestik Bruto) negara sebesar Rp 2.802 triliun pada 2021 hingga 2030 mendatang. Dengan demikian, PDB per kapita Indonesia bakal mencapai Rp 9,4 hingga 9,7 juta.

    “Industri 4.0 itu bukan hanya tentang teknologi semata. Kami melihat, industri 4.0 itu tentang bisnis, bagaimana bisnis bisa bernilai lebih supaya nilai dari efisiensi, produktivitas, dan keamanan meningkat,” jelas Alfian.

    Sejauh ini, Telkomsel adalah salah satu operator Indonesia yang paling siap menyediakan 5G untuk industri 4.0. Itu dibuktikan dengan kerja sama strategis mereka dengan Schneider Electric. Keduanya melaksanakan 5G trial joint collaboration yang berbarengan dengan peluncuran layanan Telkomsel 5G di Kota Batam pada 7 Juni 2021 lalu.

    Sumber: https://kumparan.com/kumparantech/apa-itu-industri-4-0-dan-kaitannya-dengan-jaringan-telkomsel-5g-1w8yadqx1Il/full

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad