• Breaking News

    Tantangan Perbankan Syariah dalam Era Revolusi Industri 4.0

     

    Industri 4.0 atau Revolusi Industri Keempat adalah istilah yang umum digunakan dalam dunia perkembangan industri teknologi. Untuk level keempat saat ini, dunia fokus pada teknologi digital.

    Perlu kita ketahui bahwa era teknologi saat ini berkembang pesat dan mendominasi dalam semua aspek kehidupan manusia. Saat ini kita sedang menghadapi Industri 4.0, semuanya berkaitan erat dengan teknologi dan industri. Revolusi industri sering disebut sebagai sistem siber-fisik.

    Secara umum, Industri 4.0 menggambarkan trend pertumbuhan teknologi manufaktur dan otomatisasi proses serta pertukaran data. Tren ini termasuk Internet of Things (IoT), Industrial Internet of Things (IioT), Cyber-Physical Systems (CPS), Artificial Intelligence (AI), pabrik pintar, sistem komputasi awan, dll. Bahkan dalam desain IoT industri, kelas industri ini telah menciptakan sistem manufaktur di mana mesin-mesin di pabrik dilengkapi dengan koneksi nirkabel dan sensor untuk memantau dan memvisualisasikan seluruh proses produksi. Bahkan pengambilan keputusan otonom dapat dilakukan langsung oleh mesin ini.

    Pada saat yang sama, dengan peluncuran penuh 5G, koneksi nirkabel dan peningkatan mesin akan sangat dipromosikan. Oleh karena itu, ini akan memberikan waktu respons yang lebih cepat dan mencapai komunikasi waktu nyata antar sistem. Revolusi industri keempat juga terkait dengan teknologi digital twin atau teh teknologi kembar digital. Teknologi ini dapat membuat versi virtual dari instalasi, proses, dan aplikasi yang ada di dunia nyata. Versi virtual ini kemudian dapat diuji untuk membuatnya lebih efektif, berguna, dan hemat biaya.

    Menariknya lagi, versi virtual ini dapat dibuat di dunia nyata dan ditautkan melalui internet of things, . Hal ini memungkinkan sistem cyber-fisik untuk berkomunikasi dan bekerja sama satu sama lain dan membuat pertukaran data secara real time. Teknologi ini juga dapat digabungkan dan diproses secara otomatisasi untuk manufaktur Industri 4.0. Sebagai tambahan, otomatisasi ini mencakup interkonektivitas antara proses, transparansi informasi, dan bantuan teknis untuk keputusan desentralisasi.

    Ciri utama dari revolusi industri 4.0 adalah penggabungan informasi dan teknologi komunikasi dalam bidang industri. Pada industri 4.0 ada 5 hal yang mencakup yaitu Artificial Intelligence (AI), Internet of Thing(IOT), human-machine, interface, teknologi robotic dan sensor serta teknologi percetakan tiga dimensi (3D).

    Lalu revolusi industri 4.0 ini membuat batas antara dunia digital, fisik dan biologis semakin tipis bahkan hilang. Pemanfaatan teknologi di berbagai bidang salah satunya di bidang ekonomi, mendorong kita berpikir keras untuk mengeluarkan inovasi-inovasi produk agar tidak tertelan seiring perkembangan zaman. Fenomena fintech adalah penyampaian produk dan layanan keuangan melalui percampuran platform teknologi dan model bisnis inovatif.

    Financial Technologi (fintech) sendiri didefinisikan sebagai bisnis berbasis teknologi yang bersaing dan/atau berkolaborasi dengan lembaga keuangan. Perbankan di Indonesia dalam perjalanan panjangnya telah mengalami berbagai fase revolusi industri

    Perkembangan demi perkembangan kemudian mengantarkan pada sebuah era yang kini disebut era revolusi industri 4.0, seperti yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo, revolusi industri 4.0 telah mendorong inovasi-inovasi teknologi yang memberikan dampak disrupsi atau perubahan fundamental terhadap kehidupan masyarakat.

    Revolusi industri 4.0 menawarkan kepada kita tentang peluang sekaligus ancaman akan keberlangsungan usaha yang telah mapan sekalipun, tidak terkecuali Lembaga perbankan syariah. Sementara itu Drs. Asep Mulyadi, M.M. Deputi Regional Head BNI Syariah Wilayah Barat saat mengisi kuliah Umum di Aula Epsilon Gedung FEB UNPAD Jatinangor mengatakan pentingnya revolusi industri 4.0 dan inovasi menjadi dua titik sorotan yang berkembang saat ini. Asep menyebutkan perekonomian syariah akan sangat didorong dengan adanya industri 4.0, "salah satu contoh konkret adalah transaksi pada era revolusi industri 4.0 lebih banyak melibatkan dunia maya (e-money). Menghadapi revolusi industri 4.0 bank Syariah harus berinovasi agar tetap dapat terlibat dalam roda perekonomian

    Terdapat beberapa fintech yang bekerja sama dengan OVO perusahaan penyedia pembayaran digital, kemudian BRI yang juga menggandeng GO-PAY untuk memperkuat layanan perbankan. Selain bekerja sama, ada pula industri perbankan yang mengeluarkan produk fintech sendiri. Seperti, D-mobile milik PT Bank Danamon Indonesia, produk ini memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam melakukan transaksi perbankan melalui smartphone yang terhubung dengan jaringan.

    Keterlibatan OJK dengan merancang kerja sama antara Bank Syariah dan FinTech dinilai dapat membawa perubahan pada peningkatan daya saing bank Syariah. Kerja sama yang dibentuk adalah outsourcing platform dan shadow investor sumber (Sudarwan,2019). Bentuk kerja sama pada skema outsourcing platform mengacu pada lebih terbukanya informasi kepada investor.

    Sedangkan pada skema shadow investor mengenai tawaran Bank Syariah proyek pembiayaan kepada investor melalui perusahaan FinTech yang dilakukan sedikit lebih tertutup. Hal ini dikarenakan Bank Syariah tidak ingin disebutkan sebagai promotor penawaran proyek kepada investor. Kedua skema dinilai sangat strategis untuk membantu mengembangkan daya saing pada perbankan Syariah.

    Sumber: https://kumparan.com/caprino-de/tantangan-perbankan-syariah-dalam-era-revolusi-industri-4-0-1w5C3y7o7rf/full

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad