• Breaking News

    Teknologi Canggih di Balik Ajang Olimpiade Tokyo

     


    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sudah sejak lama, sentuhan teknologi menjadi bagian dari sebuah gelaran olahraga. Pada ajang Olimpiade digelar di Tokyo pada 23 Juli hingga 8 Agustus mendatang, ada berbagai teknologi terkini yang ikut menjadi bagian krusial dari kompetisi.

    Di antaranya, sensor dan kecerdasan buatan (AI) yang secara instan mendigitalkan gerakan tubuh atlet, atau keberadaan bola pada beberapa jenis cabang olahraga. Pemanfaatan teknologi digital ini, juga dapat membantu atlet meningkatkan performa.

    Pembuat jam tangan Swiss Omega telah ditugaskan untuk mengumpulkan data atlet selama Olimpiade. Caranya dengan memasang sensor kecil di semua baju atlet.

    Sensor kecil tersebut mengumpulkan dan menganalisis sekitar 2.000 set data per detik. Beberapa jenis data yang diolah, antara lain kecepatan yang mampu diraih.

    Dalam olahraga bola voli pantai, kamera AI digunakan untuk mengukur di mana bola telah di lempar dan seberapa tinggi pemain melompat. Teknologi analisis serupa juga akan diperkenalkan pada balap sepeda, renang, dan senam.

    "Teknologi kami dapat mengukur keseluruhan kinerja seorang pemain," kata CEO Omega Timing, Alain Zobrist, dilansir dari Nikkei Asia, Selasa (20/7).

    Data, akan dibagikan dengan atlet dan pelatih, serta akan digunakan untuk mengembangkan program pelatihan di masa depan.

    Tak hanya Omega, perusahaan teknologi olahraga Denmark, Track Man juga membantu tim bisbol Jepang dalam upaya memenangkan medali emas. Perangkat TrackMan menganalisis setiap lem paran atau pukulan dengan teknologi radar yang digunakan dalam militer, untuk melacak rudal dan pesawat.

    Video secara otomatis terpicu saat pelepasan pitch atau saat pemukul melakukan kontak dengan bola dan ditampilkan berdampingan dengan analisis data TrackMan. Untuk lemparan, teknologi yang digunakan, akan dapat mengukur kecepatan pelepasan, kecepatan putaran, sumbu putaran, ketinggian pelepasan, dan sudut pele pasan.

    Data yang didapat akan mem bantu pelatih mengevaluasi apakah seorang pelempar dalam kondisi prima atau masih kelelahan dari permainan sebelumnya. Perwakilan TrackMan di Jepang Daisuke Hoshikawa mengatakan, sebelas tim pro di Negeri Sakura telah meng gunakan TrackMan dan banyak pemain di tim nasional mengandalkannya untuk latihan.

    "Banyak tim sekarang memiliki staf khusus untuk menganalisis data," ujar Hoshikawa.

    Menurutnya, perangkat sejenis, kini banyak digunakan di Major League, serta liga baseball di Korea Selatan dan Taiwan.

    Dampak pada permainan Teknologi yang dihadirkan da lam berbagai cabang olahraga, ter nyata mampu mengubah berbagai cara permainan. Hawk-Eye Inno vations, bagian dari Sony Group, telah menyediakan layanan Elec tronic Line Calling ke lebih dari 80 turnamen tenis di seluruh dunia.

    Electronic Line Calling menggunakan kamera pelacak bola dengan akurasi milimeter untuk meng identifikasi apakah sebuah bola masuk atau keluar. Layanan ini, menghilangkan keraguan dari munculnya close line calls yang kerap menjadi "tantangan" dalam permainan tenis.

    Selain itu, alat digital juga lazim digunakan dalam mengelola pengondisian atletik. Aplikasi manajemen kesehatan One Tap Sports, da ri perusahaan Euphoria yang ber basis di Tokyo, telah digunakan oleh lebih dari 45 persen atlet Jepang yang kini ambil bagian dalam Olimpiade Tokyo.

    Para atlet mengetikkan kondisi kesehatan, cedera yang dialami, makanan, dan pelatihan mereka setiap hari. Beragam data tersebut, dapat dilihat oleh pelatih dan ahli gizi melalui grafik dan bagan. Di Jepang, aplikasi ini telah di terima oleh 1.700 tim di 71 olahraga yang berbeda, termasuk tujuh tim bisbol pro dan 47 tim sepak bola.

    Penyebaran penggunaan data dalam olahraga ini, diyakini dapat ber dampak pada generasi atlet pe serta Olimpiade masa depan. Di Jepang, TrackMan juga di gu nakan di fasilitas latihan golf. Tepatnya, untuk mengukur rotasi bola pegolf nonprofesional. Perusa ha an telekomunikasi Jepang KDDI juga telah mengembangkan bola bisbol yang disematkan sensor se bagai pengukur kecepatan putaran dan pergerakan bola.

    Dengan harga di bawah 300 dolar Amerika Serikat (AS), per usahaan berharap, sensor ini dapat digunakan secara luas oleh tim bisbol anak-anak.

    Sumber: https://www.republika.co.id/berita/qwsg2b368/teknologi-canggih-di-balik-ajang-olimpiade-tokyo

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad