• Breaking News

    AI Makin Sering Digunakan dalam Proses Mencari Kandidat Kerja

    Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). (Foto: ebsedu.org)
    Jakarta, - Kini, ada banyak elemen yang berkaitan dengan human resources department (HRD) yang sudah dapat diotomatisasi dan dioptimalkan dengan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Penemuan ini juga sangat berguna dalam periode perekrutan tenaga kerja, tetapi sayangnya, hanya beberapa perusahaan yang telah menggunakan elemen AI dalam proses perekrutan mereka.

    Menurut studi tren perekrutan di tahun 2020 lalu oleh University of Bamberg di Jerman, hanya ada tiga persen perusahaan yang bahkan sudah menggunakan chatbot untuk menjawab pertanyaan dari pelamar. Lantas, seberapa besar dampak penggunaan teknologi AI dalam proses rekrutmen?

    Kecerdasan buatan vs perekrutan berbasis robot?

    Secara umum, teknik perekrutan berbasis robot mencakup berbagai metode di mana proses perekrutan setidaknya berjalan otomatis atau dilengkapi dengan analisis data. Namun dengan kemajuan di bidang kecerdasan buatan, teknologi ini telah mencapai babak baru. Khusus untuk analisis data yang kompleks, teknik perekrutan berbasis robot malah kini sering disamakan dengan penggunaan solusi berbasis AI.

    Namun, kecerdasan buatan tidak sebanding dengan kecerdasan manusia. AI biasanya mengacu pada algoritma pembelajaran yang menganalisis kumpulan data yang ada dan secara independen mengenali pola dan aturan. Teknologi ini juga memungkinkan prediksi probabilitas untuk peristiwa di masa depan. Berdasarkan data karyawan yang ada dan produktivitas mereka, misalnya, perkiraan probabilitas produktivitas pelamar dapat dihitung.

    Contoh teknologi kecerdasan buatan dalam proses perekrutan

    Aplikasi nyata teknologi AI dalam proses rekrutmen digunakan di area ini, antara lain:

    · Iklan tawaran pekerjaan: Sistem AI dapat membantu perekrut mengoptimalkan iklan sehingga kandidat dapat menemukannya semudah mungkin. Dengan menganalisis detail dan kategori iklan, maka kata kunci dapat disarankan untuk iklan yang baru.

    · Chatbots: Chatbot dapat mengatur kontak pertama dengan kandidat sepanjang waktu. Aplikasi yang ditawarkan akan bereaksi secara independen terhadap upaya kontak dan dapat menjawab pertanyaan sederhana serta secara mandiri meneruskan pertanyaan lain kepada karyawan yang sesuai.

    · Penguraian CV: Penguraian CV secara otomatis akan membaca data penting dari CV atau profil online.Teknologi AI ini dapat secara otomatis mencari pelamar dengan karakteristik atau kualifikasi tertentu.

    · Pencocokan: Ada juga aplikasi pencocokan berdasarkan kecerdasan buatan untuk mencari kandidat yang ideal atau pra-seleksi pelamar. Misalnya, berdasarkan profil persyaratan atau deskripsi pekerjaan, software ini akan menyarankan kandidat yang mungkin cocok untuk posisi tersebut berdasarkan pengalaman sebelumnya.

    Jika disimpulkan maka kecerdasan buatan akan memantapkan fungsinya dalam proses perekrutan. Penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan sangat ideal untuk perusahaan dengan permintaan karyawan yang tinggi. Selain itu, aplikasinya juga sangat penting dalam skenario di mana company harus merekrut spesialis khusus yang sangat dicari di pasaran dunia kerja.

    Misalnya, algoritma AI dapat digunakan untuk mencocokkan dengan cepat sejumlah besar aplikasi yang masuk dengan persyaratan pekerjaan agar dapat memberikan umpan balik secara tepat waktu pada kandidat yang sudah memenuhi syarat. Dengan cara yang sama, algoritma AI yang terlatih dengan baik dapat mencari forum dan jaringan untuk spesialis dengan kualifikasi yang diperlukan–bahkan melintasi batas negara.

    Pasaran untuk aplikasi AI dalam perekrutan akan terus berkembang dan rasanya sangat merugikan jika perusahaan tidak mulai mengadopsi teknologi layaknya Shortlyst. Hiring software berbasis data milik aplikasi ini memungkinkan perusahaan untuk secara langsung mencari, terlibat, dan mengecek prospek rekrutmen.

    Beberapa fitur jagoan seperti multiple platform dari Shortlyst akan memberikan keleluasaan pada perusahaan untuk dapat menjangkau lebih banyak job board yang tersedia. Dengan lebih dari 500 juta profesional dalam database-nya, software automasi ini juga dapat menyiapkan AI-based recommendation list untuk mempermudah proses filtering kandidat. Hebatnya lagi, semua fitur terbaik milik Shortlyst ini hanya dilabeli harga 5% dari biaya yang perlu dikeluarkan untuk menggunakan layanan dari LinkedIn.

    Sumber : https://www.beritasatu.com/digital/833629/ai-makin-sering-digunakan-dalam-proses-mencari-kandidat-kerja

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad