• Breaking News

    China Getol Kembangkan Robot Industri, Kenapa?


     Jakarta, - Pada tahun 2014, Presiden China Xi Jinping mencetuskan revolusi robot di bidang manufaktur. Saat ini program tersebut sedang berjalan dan meningkatkan produktivitas, namun ada konsekuensi yang merugikan.


    Setelah pertumbuhan yang tinggi dalam beberapa dekade, banyak perusahaan yang mengalihkan bisnis manufaktur ke Asia Tenggara karena upah di China yang tinggi dan menguras laba perusahaan. Upah minimum di Sanghai mencapai 2.420 yuan per bulan atau setara US$366,62 (Rp 5,096 juta), dua setengah kali lipat lebih tinggi dari satu dekade yang lalu.

    "China menyadari Anda tidak bisa hanya bersaing dengan tenaga kerja murah. Anda harus meningkatkan kemampuan manufaktur secara keseluruhan," kata Jing Bing Zhang, Direktur Riset Intelijen Pasar dan Perusahaan Konsultan IDC, seperti dikutip dari CNBC International, Kamis (28/6/2018).

    Usia pekerja yang menua juga membutuhkan otomatisasi. Populasi usia kerja China, berusia 15 hingga 64 tahun, mencapai 998 juta orang. Angka ini mulai menurun sejak 2014 dan bisa turun menjadi 800 juta orang pada 2050.

    Menurut Federasi Robotika (International Federation of Robotics), pada 2016 China menambahkan 87.000 robot industri, sedikit di bawah gabungan Eropa dan AS. Pertumbuhan Robot Industri di China diperkirakan akan melebihi 20% setiap tahun hingga 2020.

    Salah satu contoh adalah raksasa produsen iPhone, Foxconn, secara resmi dikenal sebagai Hon Hai Precision Industry.

    Pada 2012-2016, pendapatan operasi Foxconn sedikit meningkat, tetapi jumlah karyawannya menurun hampir sepertiga. Lebih dari 400.000 pekerjaan dieliminasi karena puluhan ribu "Foxbots," robot pabrik, dikerahkan. Foxconn menargetkan otomatisasi 30% pada tahun 2020.

    Robot-robot tersebut menyemprot, menekan, merakit, membongkar, mengelas, mengemas, dan melacak barang. Mereka bekerja 24 jam selama tujuh hari, tidak perlu liburan dan melakukan seperti yang diprogram. Mereka meningkatkan efisiensi, meningkatkan kualitas dan mengurangi risiko.

    Perusahaan China tidak hanya mengadopsi robot, mereka juga memproduksinya. Kampanye nasional, Made in China 2025, mendorong proses otomatis dan manufaktur cerdas. Musim panas lalu, Perdana Menteri Li Keqiang meminta perusahaan domestik untuk membuat lebih banyak robot.

    Dengan dukungan dana dan kebijakan pemerintah lokal dan nasional, sekitar 3.000 pembuat robot atau penyedia solusi diluncurkan pada periode 2014-2016.

    "Fokusnya sekarang adalah mendorong inovasi, mendorong pengembangan teknologi otomasi dan robotika. Dan juga mendorong perusahaan manufaktur untuk mengadopsi robotika di lini produksi," kata Zhang.

    Geelus Robotics yang berbasis di Beijing mengembangkan aplikasi logistik dan pergudangan, di mana situs e-commerce, produsen, pengantar ekspress, supermarket, pengecer, dan perusahaan farmasi digunakan untuk mengurutkan, memilih, dan memindahkan inventaris.

    Robot yang mereka ciptakan memangkas penggunaan tenaga manusia dan waktu pengambilan. Menurut Geekplus, sistem mereka mengurangi jumlah pegawai sebesar 50% hingga 80%.

    Kabarnya, laba per pekerja di perusahaan mobil China pada tahun 2016 mencapai US$48.000. Di Korea Selatan, dengan penggunaan robot pekerja yang lebih tinggi, mencapai US$152.000.

    Robot dari Geelus yang bernama GeekPlus telah mengalami peningkatan permintaan selama setahun terakhir.

    "Manufaktur selalu mengejar beberapa teknologi baru, beberapa otomatisasi baru," kata wakil presiden pemasaran Yunfan Gao. Didirikan pada tahun 2015, Geek Plus kini memiliki 400 karyawan.

    Harga dan fungsi robotik bervariasi. Untuk gudang 5.000 meter persegi, dengan 50 hingga 100 robot, sistem GeekPlus harganya antara 6 juta hingga 15 juta renminbi (US$950.000 hingga US$2,37 juta). Sebagian besar klien membayar biaya di muka setelah satu atau dua tahun.

    Menurut survei oleh grup media Dentsu Aegis Network, warga China adalah yang paling optimistis tentang dampak kecerdasan buatan terhadap kehidupan dan pekerjaan mereka. Selama dekade mendatang, hampir dua pertiga responden percaya robotik dan AI akan menciptakan pekerjaan, bukan menghapusnya.

    Menurut penelitian Bank Dunia (World Bank), otomatisasi bisa mengancam 77% pekerjaan China. Pada tahun 2010, China menjadi produsen terbesar di dunia, menggantikan AS. Sekitar seperempat dari barang global dibuat di China.

    "Pelatihan akan dibutuhkan untuk menciptakan pekerjaan baru dan keterampilan baru," kata Jenny Chan, Asisten Profesor di The Hong Kong Polytechnic University.

    Menurut Jenny Chan, China memiliki ketimpangan pendapatan yang akut, dan mesin dapat memperburuknya, menciptakan ketidakstabilan. Jenny Chan khawatir tentang pendapatan yang lebih rendah, pekerja berpendidikan rendah.

    "Saya benar-benar prihatin tentang ketimpangan sosial," katanya.

    Untuk memerangi ini, Cai Fang, wakil presiden dari Akademi Ilmu Pengetahuan Sosial China, mendorong pajak para pekerja untuk membiayai program jaminan sosial dari pekerja yang terkena dampak. "Kita harus membatasi kecepatan dan membatasi arah pengembangan robotika untuk menghindari efek buruk pada manusia," katanya.

    "Pemerintah perlu mengambil tindakan lebih dini untuk memikirkan dan merencanakan bagaimana masyarakat, negara, pemerintah secara keseluruhan dapat membantu mereka yang kehilangan pekerjaan mereka," kata Zhang.

    Para pembuat kebijakan sudah mengindentifikasi hal ini. Pada 2020, Departemen Pendidikan China berencana mendaftarkan 23,5 juta siswa ke dalam program kejuruan yang dirancang untuk ekonomi baru, dengan masa pendidikan tiga tahun. Menurut Chan, banyak universitas China juga mengadaptasi kurikulum bisnis Robotika.

    Meskipun robot melakukan banyak tugas, manusia yang dapat beradaptasi diperlukan untuk coding, memantau, mengatur, memelihara, dan memperbaiki mesin.

    "Pekerja manusia masih dibutuhkan karena mereka lebih responsif," kata Chan.

    Karyawan hanya mungkin diperlukan paruh waktu.

    "Mereka yang memiliki pengetahuan mungkin mendapat manfaat dan tak perlu jam kerja yang lama," kata Chan. Tugas lain, seperti pemantauan gudang dan perakitan, dapat dilakukan dari jarak jauh.

    Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/tech/20180629113705-37-21051/china-getol-kembangkan-robot-industri-kenapa/1

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad