• Breaking News

    Dorong Otomatisasi Industri, Robot Kolaboratif Bisa Jadi Pilihan

    Robot kolaboratif (Cobot) garapan Universal Robots

    Saat ini, Robot Kolaboratif (Cobot) telah menjadi pusat perhatian dalam suatu modernisasi industri dan pabrik. Di Indonesia, produsen mulai tertarik pada sistem otomatisasi ini. Pabrik-pabrik berencana untuk memanfaatkan potensi industri di Indonesia melalui adopsi teknologi otomatisasi.

    Saat teknologi robot dan otomatisasi meningkat, munculah mitos-mitos dan kesalahpahaman, seperti kemungkinan teknologi tersebut akan menggusur manusia dan memperburuk risiko kerja di pabrik.

    Head of Southeast Asia & Oceania Universal Robots Darrel Adams mengatakan, berdasarkan data Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), hanya 14 persen pekerjaan yang dapat sepenuhnya menerapkan otomatisasi. Studi Forum Ekonomi Dunia menunjukkan bahwa pada 2022, robot akan menciptakan lebih dari 133 juta lapangan pekerjaan secara global.

    Menurut Adams, tidak akan ada mesin yang bisa menggantikan ketangkasan, pemikiran kritis, pengambilan keputusan, dan kreativitas manusia.

    "Ketika Indonesia tengah bergerak menuju otomatisasi, produksi pun akan meningkat, dan lebih banyak lapangan pekerjaan bisa diciptakan. Baik pria maupun wanita di Indonesia tidak perlu khawatir kalau robot akan menggusur pekerjaan manusia," kata Adams dalam keterangan tertulisnya.

    Selain soal peran manusia yang akan tergantikan robot, Adams mengungkapkan, juga ada anggapan salah yang menyebut robot hanya bisa berperan dalam operasional skala besar yang kompleks. Menurutnya, robot kini telah dikembangkan untuk mengerjakan tugas yang palng sederhana sekalipun.

    Cobot bahkan dapat digunakan untuk proses yang berulang-ulang, manual, atau berpotensi berat bagi pekerja-pekerja manusia, seperti memilih dan menempatkan barang, pengemasan, memasang sekrup, perekatan, pembuangan, dan pengelasan.

    "Cobot juga mudah sekali dipakai, dioperasikan, dan dipelihara, karena cobot itu sangatlah sederhana, tidak rumit dan tidak perlu mengubah tata letak produksi di pabrik saat digunakan. Cobot mudah untuk diprogram dan digunakan berulang kali, kebutuhan perawatannya pun sangat minimal.," ujarnya.

    Adams menegaskan, cobot berbeda dengan robot industri tradisional. Biaya awal pemasangan cobot biasanya lebih murah daripada robot tradisional, dengan periode pengembalian rata-rata dua belas bulan saja.

    "Cobot itu hemat biaya dan ekonomis, hanya perlu investasi yang kecil saja, mengingat kalau robot-robot itu tidak memerlukan penyesuaian infrastruktur yang besar. Tidak seperti robot tradisional, cobot sendiri dapat digunakan kembali untuk berbagai fungsi di jalur produksi lain yang mampu digunakan setiap saat," tuturnya.

    Salah satu perusahaan yang sudah membuktikan kehebatan cobot adalah PT JVC Electronics Indonesia (JEIN). Cobot UR, yang dirancang dengan sistem keselamatan yang sudah paten, memungkinkan para karyawan untuk bekerja jarak dekat.

    Selain itu, cobot mampu membebaskan para pekerja dari tugas-tugas berisiko tinggi, seperti menyolder dan memisahkan bagian PCB yang dipotong, yang mengeluarkan asap dan partikel debu yang berbahaya, serta pekerjaan berisiko tinggi lainnya.

    “Salah satu fitur utama dari robot UR3 adalah fitur keselamatan yang adaptif dan konsisten; robot-robot ini mampu mendeteksi adanya ancaman kerja eksternal, langsung berhenti beroperasi ketika terjadi bahaya. Karyawan-karyawan kami bisa bekerja dalam jarak dekat dengan cobot tanpa harus khawatir akan risiko kecelakaan kerja,” kata Sukijan, supervisi pabrik di JEIN.

    Sumber: https://m.mediaindonesia.com/teknologi/325868/dorong-otomatisasi-industri-robot-kolaboratif-bisa-jadi-pilihan.html

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad