• Breaking News

    Kreasi Siswa Madrasah, Ciptakan Mesin Pembantu Apoteker

    INOVASI: Dua siswa MAN 1 Surakarta Tiara Vania Wijaya Putri (kiri) dan Mufti Muammarul (kanan), kreator De Pharmacist. (ISTIMEWA)
    Berbagai Berbagai inovasi ditelurkan siswa madrasah di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya mesin obat otomatis. Namanya De Pharmacist.

    Mesin ini dibuat dua siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta. Yakni Mufti Muammarul dan Tiara Vania Wijaya Putri. Fungsi utama De Pharmacist, memudahkan kinerja apoteker. Yaitu meminimalkan kontak langsung dengan pembeli.

    Pembina robotik MAN 1 Surakarta Toro menjelaskan, De Pharmacist awalnya dibuat untuk mengikuti kompetisi Robotik Madrasah 2021. Saat ini, De Pharmacist telah lolos ke tahap final.

    “Oktober nanti finalnya. Babak penyisihan lomba lewat daring. Dua siswa kami membuat video presentasi De Pharmacist. Kemudian dikirimkan untuk dilombakan,” terang Toro kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (10/9).

    Desain De Pharmacist berupa boks. Di dalamnya terdapat tiga loker atau slot. Tergantung jenis penyakit. Pemilihan slot obat penyakit, disesuaikan gejala Covid-19 yang saat ini sedang melanda. Mulai dari batuk, demam, dan pusing.

    Sistem kerja De Pharmacist, mirip dengan mesin ATM. Sama-sama pakai kartu. Bedanya, ATM keluarkan uang tunai. Sedangkan De Pharmacist keluarkan obat secara otomatis. Baik obat bentuk puyer, tablet, maupun sirup.

    Cara kerja mesin ini sangat sederhana. Dilengkapi sensor Ultrasonic HCSR-05. Pembeli hanya perlu memasukkan kartu identitas ke dalam slot, sesuai dengan kebutuhan. Kemudian secara otomatis, obat keluar. Dan pembeli bisa mengambil sendiri, tanpa harus berinteraksi dengan apoteker.

    “Secara otomatis mesin akan menerima intruksi untuk memutar papan obat. Sesuai program yang telah dibuat dengan aplikasi Arduino IDE. Ketika letak obat sudah berada di pintu keluar, akan didorong keluar oleh Motor Servo SG90 menuju keranjang. Sehinga bisa diambil langsung oleh pembeli,” imbuh Toro.

    Siswa MAN 1 Surakarta Mufti Muammarul pembuat De Pharmacist menambahkan, pembuatan desain dan perakitan hanya menelan waktu sekitar sebulan. Baik luring maupun daring. Didampingi guru pembina robotik. Khusus perakitan, dilaksanakan di sekolah dengan mematuhi protokol kesehatan (prokes) ketat.

    “Kesulitannya, harus bolak-balik madrasah dan asrama. Kami juga pakai Zoom Meeting untuk mendapatkan pembinaan dari guru pendamping selama prose pembuatan. Kadang kurang maksimal kalau secara daring,” ujarnya.

    Kelebihan De Pharmacist, bisa diaplikaiskan di apotek, sekolah, dan di rumah. Biaya pembuatan sangat terjangkau. Hanya menelan biaya sekitar Rp 400 ribu. Desin boks dari akrilik, bobotnya ringan tapi kukuh.

    Pengaplikasian mesin ini sangat mudah dan bisa digunakan siapa pun. Energi untuk menggerakkan mesin juga hemat. Hanya perlu baterai tegangan 5-7 Volt.

    “Selain apotek, juga dapat digunakan di UKS sekolah. Apalagi, saat ini sudah mulai PTM (pembelajaran tatap muka) terbatas. Sehingga sekolah perlu menghidupkan kembali UKS. Dengan bantuan De Pharmacist di sekolah, membantu meminimalkan penularan Covid-19,” ungkap Mufti.

    Ada kelebihan, pasti punya kekurangan. Ruang penyimpanan obat De Pharmacist terbatas. Hanya mampu menampung 3-4 botol obat ukuran sedang. Tapi, kelemahan ini bakal terus dikembangkan. Dan tidak menutup kemungkinan akan diproduksi masal.

    “Kalau bisa diproduksi dalam jumlah banyak. Sehingga membantu memutus rantai penularan Covid-19 di lingkup apoteker dan masyarakat pada umumnya,” harapnya.

    Sumber : https://radarsolo.jawapos.com/pendidikan/11/09/2021/kreasi-siswa-madrasah-ciptakan-mesin-pembantu-apoteker/
     

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad