• Breaking News

    2 Siswi MIN 2 Pasuruan Raih Juara 1 Madrasah Robotic Competition 2021

    BANGGA: Kepala MIN 2 Pasuruan Hariyono, bersama Rahma (tengah) dan Kayla (kanan). Keduanya meaih juara pertama kategori mobile robot di ajang Madrasah Robotic Competition (MRC) 2021 di Tangerang. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
    Rahma Awwani dan Kayla Hanan Afia Setiawan masih duduk di MIN 2 Pasuruan. Tapi keduanya mampu tampil gemilang di ajang Madrasah Robotic Competition (MRC) 2021. Keduanya bisa meraih juara 1 Nasional Tingkat Madrasah Ibtidaiyah Kategori Mobile Robot.

    GEMBIRA dan ceria. Itulah yang terpancar dari raut Rahma Awwani, 12 dan Kayla Hanan Afia Setiawan, 10. Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di sekolahnya yang berlokasi di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, mereka nampak malu-malu kucing.

    Dua siswi ini masing-masing duduk di bangku kelas VI dan IV. Meski masih tingkat dasar, mereka berhasil juara 1 di ajang Madrasah Robotic Competition (MRC) 2021, tingkat madrasah ibtidaiyah kategori mobile robot. Sebuah lomba yang digelar 16-17 Oktober kemarin, di Indonesia Convention Exhibition ((ICE) Tangerang, Banten. Sebuah ajang yang diselenggarakan Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementrian Agama RI.

    “Untuk tingkat MI, kategori mobile robot tampil di final pesertanya ada 22 sekolah se-Indonesia. Alhamdulillah kami berdua juara 1, dengan skor total 40,” kata Rahma Awwani, dan Kayla Hanan Afia Setiawan, saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di MIN 2 Pasuruan.

    Dalam lomba, Rahma sapaan akrabnya menuturkan, masing-masing sekolah peserta diwakili dua orang pelajar. Bisa siswi atau siswa, atau siwa dan siswi. Kebetulan MIN 2 Pasuruan memilih Rahma dan Kayla, usai melakukan seleksi di internal sekolah.

    Begitu terpilih, keduanya melakukan persiapan. Tantangannya, mereka hanya punya waktu mepet. Sekitar tiga bulan saja. Karena dari pengumuman sekaligus pendaftaran hingga hari H lomba, hanya tiga bulan. Dan maksimalnya sekitar 2-3 pekan jelang hari H lomba atau final.

    Agar bisa lolos, mereka tetap harus melalui proses sosialisasi dan pendaftaran via online. Lanjut seleksi administrasi, makalah dan video. Kemudian pengumuman peserta lolos, dan konfirmasi ketersediaan mengikuti kompetisi ini.

    “Saat proses seleksi, sudah menyiapkan robotnya. Kami dibantu dan dipandu guru pembimbing di sekolah. Sesuai dan mengacu pada juknis yang sudah ditentukan oleh panitia. Mulai dari ukuran robot, jenis, aplikasi yang digunakan dan lain-lain,” katanya.

    Khusus untuk menyiapkan robot, juga line atau jalurnya, mereka mulai mengikuti proses merakit hingga jadi. Di tahap ini, butuh waktu hingga dua pekan lamanya.

    Sebagai infoirmasi, di ajang lomba ini, untuk kategori mobile robot, robot berfungsi memindahkan barang dari A ke B. Melintas di line atau jalur terdapat halang rintang atau tantangannya. Dibutuhkan kecermatan, kejeian dan kehati-hatian. Karena jika tidak, maka tak maksimal. Juga sekaligus mempengaruhi poin atau skor didapat saat final.

    “Sebelum melakukan pemindahan barang, lebih dulu di program di laptop. Menggunakan aplikasi yang telah ditentukan panitia. Setelah itu, dipindah ke memori robot melalui transfer cukup dengan kabel data saja. Tanpa remote control,” kata Rahma yang berasal dari Desa Bulusari ini.

    Saat di final, tantangannya lebih berat lagi. Karena line atau jalur sudah disiapkan khusus oleh panitia. Beda dengan saat dibuat untuk latihan di sekolah. Jelas jalurnya lebih sulit. Apalagi juga disaksikan langsung oleh orang banyak. Termasuk dari peserta sekolah lain. Maka Rahma dan Kayla harus program ulang, karena jalur yang digunakan beda. Di babak final, peserta hanya diberi kesempatan dua sesi. Masing-masing sesi, durasi waktunya hanya tiga menit saja.

    Tetapi berkat kecermatan, teliti dan tepat menghitung sudut dan jarak, keduanya mampu mengoperasionalkan robot dengan maksimal. Mereka pun keluar sebagai pemenang.

    Menurut Kayla, kunci dalam lomba ini hingga akhirnya juara 1, adalah rutin berlatih setiap hari di sekolah. Utamanya 2-3 pekan jelang hari H lomba. Selain cermat, teliti, juga jeli. Tim harus kompak, utamanya dua peserta ini.

    “Mulai dari latihan hingga lomba, kami berdua dalam tim bagi tugas. Saya programernya, Rahma menjadi operatornya. Bagi kami ini merupakan lomba robot ikut pertama kalinya, pengalaman baru. Sangat senang serta bangga, bisa juara 1,” tutur siswi asal Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol.

    Tholib selaku guru pembimbing, ia menuturkan untuk pembuatan mobile robot sekaligus line nya, biayanya mencapai jutaan rupiah. Komponennya robotnya terdiri dari sejumlah item. Antara lain ada resistor, sensor, motor, IC, PCB, baterai cash, memori, capit, analog dan lain-lain.

    “Komponen untuk robotnya belinya via online. Kami yang merakit robot berikut linenya, dengan dibantu teman. Untuk programmer dan operatornya, semuanya Kayla dan Rahma,” jelasnya.

    Keberhasilan dua siswinya menjadi juara 1 di ajang Madrasah Robotic Competition (MRC) 2021 tingkat madrasah ibtidaiyah kategori mobile robot, tentu disambut baik. Sekolah memberi apresiasi. Apalagi bisa sampai final dan menang. Rahma dan Kayla pun diganjar uang pembinaan Rp 10 juta plus kit robotic.

    “Pastinya senang sekali bisa membawa harum dan nama sekolah juga daerah. Manfaat yang didapat banyak. Ini berkat buah kerja keras tim, terutama dua siswi yang ikut lomba dan guru pembimbing,” ungkap Kayla sembari diiyakan Rahma.

    Sumber : https://radarbromo.jawapos.com/features/29/10/2021/2-siswi-min-2-pasuruan-raih-juara-1-madrasah-robotic-competition-2021/
     

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad