• Breaking News

    Masalah Etika Jadi Tantangan Utama Pengembangan Teknologi AI

     

    Ilustrasi robot. Shutterstock/dok
    JAKARTA – Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Bambang Brodjonegoro mengatakan, tantangan utama pengembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) adalah masalah etika. Sebab penggunaan teknologi ini akan menyentuh langsung hubungan antarmanusia.

    "Apakah AI ini memang benar-benar bisa menjadi pengganti manusia? Maksudnya bukan hanya pengganti seperti robot. Tetapi bahkan bisa menggantikan dalam konteks misalnya pengambilan keputusan," kata Bambang dalam webinar, Senin (12/10).

    Dalam bidang kedokteran, dia mencontohkan, bukan tak mungkin di masa depan sebagian peran dokter diganti dengan teknologi AI. Dengan rancangan algoritma tertentu, robot yang dikembangkan dengan AI mampu mendiagnosis seorang pasien.

    Menurut Bambang, hal itu akan memunculkan pertanyaan etis, baik dari isu kedokteran itu sendiri maupun isu kemanusiaan secara luas. Pada saat yang bersamaan, masalah ini akan berpengaruh kepada rendahnya penerimaan pengguna teknologi AI.

    "Kemudian juga bagaimana membuat AI itu lebih dipahami orang. Artinya AI jangan sampai hasilnya complex models yang susah diterjemahkan. Ini kadang-kadang masih menjadi challange yang luar biasa," ucap Bambang.

    Dia menuturkan biaya pengembangan AI tidak akan murah, terutama dalam membuat predictive algorithms. Meskipun potensi nilai industrinya diprediksi semakin tinggi dalam lima tahun terakhir, yakni dari US$8 miliar pada 2016 menjadi US$72 miliar.

    "Satu lagi tantangan yaitu AI akan sangat tergantung kepada big data. Big data ini juga masih banyak isu terkait masalah akses, privasi, dan modelling atau data science sendiri yang melatarbelakangi big data," ungkap dia.

    Pengembangan AI, lanjut dia, akan terkait dengan pengembangan teknologi robotik lebih dulu. Kecepatan mengembangkan robotik otomatis juga akan memengaruhi teknologi AI. Sementara pada pengembangan robotik sendiri terbentur sejumlah tantangan.

    Bambang mengatakan, isu terbesar atas advance robotics dan cognitive automation di Indonesia adalah terkait dengan tenaga kerja. Sebab banyak orang mencemaskan teknologi ini akan menggantikan berbagai kegiatan manusia, termasuk di sektor manufaktur.

    "Muncul kekhawatiran robotik dan automasi akan semakin mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Tentunya kita tahu bahwa isu mengenai tenaga kerja ini akan sangat-sangat sensitif," ucap Bambang.

    Oleh karena itu, pengembangan teknologi robotik disebut tak boleh melupakan sisi humanis. Adapun nilai industri dari advance robotics dan cognitive automation juga diprediksi terus meningkat dari US$92 miliar pada 2016 menjadi US$225 miliar pada 2021.

    Bambang berpendapat AI akan menjadi ciri khas dari revolusi industri keempat. Sama seperti halnya mesin uap pada revolusi industri pertama, listrik pada revolusi industri kedua, dan komputer pada revolusi industri ketiga.

    Sumber : https://www.validnews.id/nasional/Masalah-Etika-Jadi-Tantangan-Utama-Pengembangan-Teknologi-AI-Con

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad